Kita, kota dan niscaya
Jumat malam setelah hujan jalanan kota tetap saja ramai lalu lalang. Sementara, kita lebih memilih menepi dari kerumun orang-orang, kita lebih memilih duduk di depan kamar kos dan berbincang. Kacang rebus dan segelas teh hangat malam itu cukup untuk kita berdua. Suasana di sekitar kos sunyi, hanya suara kita berdua yang lirih dan saling bersahut. Kita membayangkan hari-hari yang sudah terlewat, sekaligus bertanya-tanya, tentang bagaimana jika dulu kita tidak pernah bertemu, tentang bagaimana jika dulu aku tidak memulai, bagaimana jika dulu kau tak mau. Pertanyaan demi pertanyaan selalu saja menemukan jawaban dari mulutku maupun mulutmu. Sebenarnya, kamu sendiri sudah membuat beberapa rencana, salah satunya adalah menjadikan Solo sebagai batu loncatan, dan Bandung adalah satu kota yang bakal kamu jajaki setelahnya. Namun, kita tidak pernah tahu tentang hari depan, terlebih lagi Tuhan gemar sekali memainkan skenarionya, dan kamu sendiri pun tahu bahwa sebaik-baiknya rencana adalah rencan...