Sore dan keluhan-keluhan seadanya
Solo sedang terik-teriknya hari itu. Menikmati sore selepas kerja boleh jadi pilihan paling tepat, barangkali mencari angin segar. Pukul 16.00 aku menjemput Anna di tempat kerjanya, dan segera bergegas. Kebetulan ia tak ingin langsung pulang ke rumah. Sepeda motor melaju mengantarkan aku dan Anna menuju arah barat. Tanya jawab melulu terjadi di atas jok motor, walaupun sesekali ia tak dengar apa yang kuucap, pun juga sebaliknya. Tak jarang suara kami masing-masing kabur tertiup angin. Merapi dan Merbabu tampak gagah sekali di jauh sana, walau sesekali pandanganku terganggu sebab baliho-baliho partai dan papan-papan iklan. Aku memutar balik sepeda motorku dan menaiki fly over Purwosari. Berjalan ke arah timur membelakangi matahari yang mulai berjalan pulang. Jalanan sore itu cukup padat sebab jam pulang kerja. Anna tampak sebal dan mengernyitkan wajahnya, kulihat dari kaca spion kiriku. Sesekali juga ia menggerutu. “Solo macam kota-kota besar, sekarang. Macet tiap kali jam pulang ...