Sore dan keluhan-keluhan seadanya

Solo sedang terik-teriknya hari itu. Menikmati sore selepas kerja boleh jadi pilihan paling tepat, barangkali mencari angin segar.

Pukul 16.00 aku menjemput Anna di tempat kerjanya, dan segera bergegas. Kebetulan ia tak ingin langsung pulang ke rumah. 

Sepeda motor melaju mengantarkan aku dan Anna menuju arah barat. Tanya jawab melulu terjadi di atas jok motor, walaupun sesekali ia tak dengar apa yang kuucap, pun juga sebaliknya. Tak jarang suara kami masing-masing kabur tertiup angin.

Merapi dan Merbabu tampak gagah sekali di jauh sana, walau sesekali pandanganku terganggu sebab baliho-baliho partai dan papan-papan iklan. Aku memutar balik sepeda motorku dan menaiki fly over Purwosari. Berjalan ke arah timur membelakangi matahari yang mulai berjalan pulang.

Jalanan sore itu cukup padat sebab jam pulang kerja. Anna tampak sebal dan mengernyitkan wajahnya, kulihat dari kaca spion kiriku. Sesekali juga ia menggerutu.
“Solo macam kota-kota besar, sekarang. Macet tiap kali jam pulang kerja” ucapnya sambil menyadarkan dagu di pundakku.

Aku terkejut, sebab jarang sekali ia menggerutu macam itu, atau bahkan itu adalah keluhannya yang pertama kali kudengar.

Dan aku menambah laju kecepatan sepeda motorku setelah melewati kemacetan di belakang tadi.

“Mau ke mana ini ?” tanyaku padanya. Barangkali aku sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya; terserah.

Dan kuputuskan untuk berhenti di kedai kopi belakang Sriwedari. Segera kupesan single origin. Dan Anna memesan cokelat hangat. 

Kami duduk di kursi kecil di depan kedai sembari menunggu pesanan diantarkan. Sembari berbincang santai kunyalakan sebatang gudang garamku.

Anna bercerita panjang tentang tuntutan-tuntutan dari atasan yang tak kunjung henti. Ia bimbang, hendak keluar dari tempat kerja atau memilih bertahan, toh bagaimanapun itu sudah menjadi pilihannya. Aku hanya mendengar, dan terus mendengar, sebab ia tampaknya juga tak ingin aku memberi saran, hanya ingin didengar. Hari itu, kali kedua aku mendengar keluhannya.

“Ayo. Cerita lagi yang banyak, Ann” ucapku berbarengan dengan pesanan datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi