Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2022

Sosok dewasa yang selalu ku ingat

Kau tak perlu bertanya, sebab kau sudah paham, tentang anakmu yang gagal. Yang tak seperti yang kau inginkan. Kau tahu apa masalah anakmu yang datang melulu saban hari, kau hanya bisa menguatkan, lewat doa yang panjang maupun pendek, namun tak pernah berhenti. Pak, maafkan anakmu. Yang keras kepala, yang temperamen. Memang begitu adanya. Pak, aku tahu, kau tak lagi muda. Terlihat dari kerutan yang ada di dahimu. Dari warna rambutmu yang tak lagi hitam. Pak, keberadaanmu menguatkanku. Walau tanganmu tak sehalus tangan ibu, walau ucapanmu tak selembut ucapan ibu. Kau pandai menutupi segala kesusahanmu. Raut wajahmu tak pernah terlihat sedih. Sebab kau tak ingin aku khawatir, kan. Bahumu terlanjur kuat untuk menyangga segala beban. Kau mampu mendidikku sejauh ini, memberi segala hal indah yang kau punya. Pak, ingin kubasuh peluh di tubuhmu. Pak, aku menyayangimu.

Hidup

Sore itu sangat intim buatku. Menikmati selinting tembakau di pinggir sungai kecil bersama kawan lama yang kembali ku jumpai. Gemercik air mengalir menambah suasana semakin syahdu, tembakau dibagi, disulut habis dihisap tawa. Sembari bercerita tentang masa lalu, masa-masa yang pernah kita lewati bersama. Cerita masa kecil memang selalu asyik untuk dibicarakan. Seakan-akan ingin sekali rasanya kembali ke masa-masa itu. Sore hari habis mandi, bedak di muka belum rata, bawa uang seribu lari ke warung, dikejar ibu dengan membawa semangkuk nasi. Itu salah satu momen yang indah, yang tak akan pernah hilang dalam ingatan. Kita hanya bisa menengok ke belakang, bukan kembali. Kita telah beranjak. Kita tak lagi anak kecil yang cengeng, yang merengek minta jajan. Yang ke mana-mana harus ditemani orang tua. Memang dewasa itu sikap, bukan fase. Namun saat-saat sekarang adalah saat di mana kita dituntut untuk kuat, dalam hal apapun. Masalah selalu datang silih berganti, kita dituntut untuk men...