Hidup
Cerita masa kecil memang selalu asyik untuk dibicarakan. Seakan-akan
ingin sekali rasanya kembali ke masa-masa itu. Sore hari habis mandi, bedak di
muka belum rata, bawa uang seribu lari ke warung, dikejar ibu dengan membawa
semangkuk nasi. Itu salah satu momen yang indah, yang tak akan pernah hilang
dalam ingatan.
Kita hanya bisa menengok ke belakang, bukan kembali. Kita
telah beranjak. Kita tak lagi anak kecil yang cengeng, yang merengek minta
jajan. Yang ke mana-mana harus ditemani orang tua.
Memang dewasa itu sikap, bukan fase. Namun saat-saat
sekarang adalah saat di mana kita dituntut untuk kuat, dalam hal apapun. Masalah
selalu datang silih berganti, kita dituntut untuk mencari solusi sendiri,
bingung sendiri, walaupun kadang solusi selalu datang tiba-tiba untuk
menjawabnya. Dan buatku, memang begitulah siklus hidup.
Hidup bukanlah tujuan, tapi sebuah perjalanan.
Sering kali kita membanding-bandingkan hidup kita dengan
orang lain, materi dijadikan tolok ukur kebahagiaan. Itulah hal yang kadang
membuat kita lupa bersyukur. Ya, manusia memang tamak. Kita tak pernah merasa
cukup. Namun bahagia itu relatif, kita sebenarnya bisa menemukan atau bahkan
membuat kebahagiaan kita sendiri, dalam bentuk apapun. Sering kali kita melihat
orang lain bahagia, tapi kita tidak tahu bagaimana sebenarnya mereka. Dan tanpa
kita sadari, orang lain melihat kita juga bahagia.
Seperti kata orang Jawa “Wong urip iku wang sinawang”.
Komentar
Posting Komentar