Hidup

Sore itu sangat intim buatku. Menikmati selinting tembakau di pinggir sungai kecil bersama kawan lama yang kembali ku jumpai. Gemercik air mengalir menambah suasana semakin syahdu, tembakau dibagi, disulut habis dihisap tawa. Sembari bercerita tentang masa lalu, masa-masa yang pernah kita lewati bersama.

Cerita masa kecil memang selalu asyik untuk dibicarakan. Seakan-akan ingin sekali rasanya kembali ke masa-masa itu. Sore hari habis mandi, bedak di muka belum rata, bawa uang seribu lari ke warung, dikejar ibu dengan membawa semangkuk nasi. Itu salah satu momen yang indah, yang tak akan pernah hilang dalam ingatan.

Kita hanya bisa menengok ke belakang, bukan kembali. Kita telah beranjak. Kita tak lagi anak kecil yang cengeng, yang merengek minta jajan. Yang ke mana-mana harus ditemani orang tua.

Memang dewasa itu sikap, bukan fase. Namun saat-saat sekarang adalah saat di mana kita dituntut untuk kuat, dalam hal apapun. Masalah selalu datang silih berganti, kita dituntut untuk mencari solusi sendiri, bingung sendiri, walaupun kadang solusi selalu datang tiba-tiba untuk menjawabnya. Dan buatku, memang begitulah siklus hidup.

Hidup bukanlah tujuan, tapi sebuah perjalanan.

Sering kali kita membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain, materi dijadikan tolok ukur kebahagiaan. Itulah hal yang kadang membuat kita lupa bersyukur. Ya, manusia memang tamak. Kita tak pernah merasa cukup. Namun bahagia itu relatif, kita sebenarnya bisa menemukan atau bahkan membuat kebahagiaan kita sendiri, dalam bentuk apapun. Sering kali kita melihat orang lain bahagia, tapi kita tidak tahu bagaimana sebenarnya mereka. Dan tanpa kita sadari, orang lain melihat kita juga bahagia.

Seperti kata orang Jawa “Wong urip iku wang sinawang”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi