Hujan bulan Juni dan membuallah kita
Jam setengah sepuluh malam kami bergegas keluar rumah dengan niatan beli bekal untuk makan malam, baru menempuh perjalanan sekitar lima menit, hujan turun tanpa memberi pesan terlebih dahulu, mak bres . Ronald menggerutu panjang musabab perut sudah amat lapar, namun apa boleh buat, alam tak bisa menuruti apa yang kita ingin. Berteduhlah kami berdua di emperan warung yang sudah tutup. Hujan agak reda, dan deras lagi, begitu selalu berulang. Kubakar sebatang rokok tanpa kubagi pada Ronald, sebab ia tak merokok sama sekali. Dan membuallah ia, aku pula. Hujan di bulan Juni, ucap Ronald dengan mengutip puisi karya Sapardi Djoko Damono. “Tapi tidak bisa mencintainya dengan sederhana” tambahku dengan mengutip karya Sapardi yang lain. Kita sama-sama membual berulang-ulang. Dan terlemparlah ingatanku dengan sesuatu hal yang sudah-sudah; tentang A, M, E, hingga R. Dan beberapa pertanyaan yang mampir di ingatan, tentang ketabahan Hujan Bulan Juni, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan J...