Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

Hujan bulan Juni dan membuallah kita

Gambar
  Jam setengah sepuluh malam kami bergegas keluar rumah dengan niatan beli bekal untuk makan malam, baru menempuh perjalanan sekitar lima menit, hujan turun tanpa memberi pesan terlebih dahulu, mak bres . Ronald menggerutu panjang musabab perut sudah amat lapar, namun apa boleh buat, alam tak bisa menuruti apa yang kita ingin. Berteduhlah kami berdua di emperan warung yang sudah tutup. Hujan agak reda, dan deras lagi, begitu selalu berulang. Kubakar sebatang rokok tanpa kubagi pada Ronald, sebab ia tak merokok sama sekali. Dan membuallah ia, aku pula. Hujan di bulan Juni, ucap Ronald dengan mengutip puisi karya Sapardi Djoko Damono. “Tapi tidak bisa mencintainya dengan sederhana” tambahku dengan mengutip karya Sapardi yang lain. Kita sama-sama membual berulang-ulang. Dan terlemparlah ingatanku dengan sesuatu hal yang sudah-sudah; tentang A, M, E, hingga R. Dan beberapa pertanyaan yang mampir di ingatan, tentang ketabahan Hujan Bulan Juni, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan J...

Claudia dan Americano ice adalah dua hal yang akrab

Kabar datang begitu cepat pagi itu, kamu hendak berkunjung jika kedai sudah buka. Sementara, mataku masih mengantuk sebab kurang tidur, tidur yang kepagian lebih tepatnya. Segera kuberdiri di depan cermin dan berpacak. Menyemprot parfum secukupnya. Dan segera pula kutata meja kerjaku. Hal lain yang tak lupa adalah kalibrasi mesin espresso, sebab begitu juga rutinitas saban hari, terlebih aku tahu kau akan memesan Americano Ice macam biasanya. Padahal perutku masih kosong, keroncongan pula, sebab belum sarapan. Aku tahu, tiap kali kalibrasi mesin kopi sebelum sarapan tentu akan menaikkan asam lambungku, dan benar saja, satu shoot dua shoot  tak kunjung ketemu rasa yang diinginkan. Perut sudah sakit. Perih.  Ngitir-itir. Dan muntahlah. Sebab kau, Claudia. Kau membikin aku muntah-muntah di pagi buta.  Dan kau tiba tepat saat kalibrasiku selesai, tentu saja Americano Ice untukmu hari itu kubikin se spesial mungkin, walau disertai dengan gerd. "Hai, mas" ucapmu ramah sembari b...

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Lagu Tapak Tilas Kerinduan milik The Cloves And The Tobacco berputar sejak sepeda motorku keluar dari gang rumah. Suaranya terdengar lirih dari headset yang kupasang di telinga. Bergegaslah aku dengan laju sepeda motor yang cenderung pelan, berbarengan dengan awan berarak. Perjalanan menuju pulang ke kampung halaman hari itu agak terik, beruntung masih ada hembus angin yang sedikit menyegarkan. Ayun langkahku di belantara, beton tinggi menjulang, berpamit pada sudut kota yang akan kutinggalkan. Tepat setelah sepenggal lirik itu menguing di telingaku, segera kutambah laju sepeda motor. Dan mengucap pamit dalam hati pada orang-orang di kota.  Tentang Anna, tentang kawan-kawanku di skena Gajah Mada, tentang Margareta, dan semua orang yang kukenal, aku pamit untuk sehari saja menikmati kesendirian di kampung halaman.  Dari jalanan kota hingga masuk ke kabupaten, memasuki pedesaan yang masih asri. Sembari tengok kanan kiri yang dipenuhi pohon-pohon tinggi nan hijau. Lagu demi lagu ...

Jatuh cinta sekali, sisanya menjalani hidup

Sore sedang cerah-cerahnya di kota Solo, aku mengambil jatah istirahat tepat selepas Asar. Cappucino ice menjadi minuman paling menyegarkan tampaknya. Kuseruput sekali, dan berjalanlah aku mendekati tempat duduk staff jika sedang istirahat. Di situ hanya ada Ofik, rekan kerjaku yang kebetulan jam istirahatnya bareng denganku hari itu. Ia menawarkan rokok macam biasanya, dan kuambil sebatang. Kami berbincang lumrahnya rekan kerja yang lain. Sembari menyeruput minuman dan menyedot sebatang rokok, asap mengepul terbang tertiup angin. Obrolan berputar begitu saja, dari hal remeh temeh hingga mengarah ke obrolan yang serius.  Ia mulai membahas tentang masa lalunya. Tentang seseorang yang pernah ia cintai, yang tampaknya masih ia cintai sampai hari ini, yang belum bisa ia lupakan. Begini ceritanya; 14 tahun yang lalu, Ofik pernah menjalani hubungan dengan seorang perempuan, Darcy namanya. Pada suatu waktu mereka berdua hendak melangkah ke tahap yang lebih serius; pernikahan. Segala hal d...

Ama il tuo lavoro

Kembali masuk kerja setelah hari libur kadang-kadang diawali dengan rasa malas berangkat, sebab tampaknya libur kurang puas, kurang puas merayakan libur yang singkat. Aras-arasen. Namun, semalas apa pun, diri harus dipaksa untuk berangkat kerja, sebab masih di bawah industri. Hanya ada dua pilihan; kerja atau potong gaji, tentu bekerja adalah pilihan yang mesti jatuh. Beruntungnya, hari pertama masuk kerja setelah libur tidak begitu penat. Tidak membosankan. Tepat pukul 16.00 kusempatkan menyeduh Americano ice untukku sendiri. Cukup menyegarkan. Berbarengan dengan alunan musik jazz dan bosanova dari speaker pojok langit-langit. Menjadi keintiman tersendiri buatku, sembari melanjutkan pekerjaan.  Orderan minum datang perlahan, satu demi satu kelar. Tamu datang dan pergi silih bergantian. Kunikmati saja. Tentu disertai dengan rasa cinta pada pekerjaan. Sekrodit apa pun jika sudah terbiasa, dan didasari rasa cinta tentu tak akan mengeluh. Dan memang begitulah seharusnya pekerja, yang ...