Jatuh cinta sekali, sisanya menjalani hidup

Sore sedang cerah-cerahnya di kota Solo, aku mengambil jatah istirahat tepat selepas Asar. Cappucino ice menjadi minuman paling menyegarkan tampaknya. Kuseruput sekali, dan berjalanlah aku mendekati tempat duduk staff jika sedang istirahat. Di situ hanya ada Ofik, rekan kerjaku yang kebetulan jam istirahatnya bareng denganku hari itu. Ia menawarkan rokok macam biasanya, dan kuambil sebatang. Kami berbincang lumrahnya rekan kerja yang lain. Sembari menyeruput minuman dan menyedot sebatang rokok, asap mengepul terbang tertiup angin. Obrolan berputar begitu saja, dari hal remeh temeh hingga mengarah ke obrolan yang serius. 
Ia mulai membahas tentang masa lalunya. Tentang seseorang yang pernah ia cintai, yang tampaknya masih ia cintai sampai hari ini, yang belum bisa ia lupakan.

Begini ceritanya; 14 tahun yang lalu, Ofik pernah menjalani hubungan dengan seorang perempuan, Darcy namanya. Pada suatu waktu mereka berdua hendak melangkah ke tahap yang lebih serius; pernikahan. Segala hal dipersiapkan baik-baik. Singkat cerita, mereka berdua berpisah sebab keadaan yang amat pelik, tak bisa kutuliskan di sini sebab Ofik tak ingin kisahnya diketahui banyak orang. Intinya, mereka berdua berpisah, Darcy menikah dengan orang lain lebih dahulu, walaupun dengan amat terpaksa. Ofik teramat kehilangan, ia begitu terpukul, hatinya tersayat-sayat. Namun, sehancur apapun perasaannya, kehidupan harus terus berlanjut, terus berjalan, bergerak, terus hidup dan menghidupi. Dan setahun kemudian Ofik menikah juga dengan orang yang ia pilih. Dan apakah Ofik mencintai orang yang ia pilih untuk dijadikan pendamping hidupnya? Belum tentu, sebab tampaknya seorang lelaki menikah dengan orang yang mau menemani dalam keadaan apa pun, dan cinta akan tumbuh dengan upaya-upaya saban hari, sampai orang tidak tahu sejak kapan ia terbiasa memberi, dan terus memberi, yang terbaik tentunya.

Dan setelah Ofik dan Darcy sudah berpisah dan sudah saling memiliki, ternyata keduanya masih menyimpan rasa yang sama, yang mendalam, hanya saja keadaan yang memisahkan mereka berdua, dan tak pernah, tak akan bisa bertemu lagi. Sebab keadaan yang sudah berbeda. Sekalipun rasa masih sama.

Aku mencoba menjadi pendengar yang baik sore itu, dan Ofik bercerita, terus bercerita. Sambil agak berkaca-kaca. 

14 tahun berlalu, Ofik belum bisa melupakan masa lalunya, barangkali seseorang tak pernah bisa lupa dengan masa lalu, melainkan berdamai dengannya. 
Dan ia masih kukuh memendam hal itu, hingga saat ini, bahkan istrinya pun tak tahu hal itu. Ia tak punya tempat untuk bercerita, atau tak ingin. Beruntungnya ia masih ingat dengan Tuhannya, satu-satunya tempat untuknya berkeluh kesah dan memohon. Dan boleh jadi aku satu-satunya orang yang tahu kisahnya itu, boleh jadi juga ia menaruh rasa percaya padaku, maka ia menceritakan hal itu. 

"Beruntung kamu tidak gila, ya, mas" Ku beranikan mengucap padanya. 
"Iya, bersyukurnya itu" Jawabnya pendek. 

Di satu sisi, Tuhan memang tempat untuk bercerita tanpa ada rasa takut cerita itu tersebar. Namun di sisi lain, seorang lelaki tampaknya perlu bercerita dengan orang lain, bukan apa, barangkali sekedar meringankan beban hidupnya yang amat berat.

Saat ini, hal terbaik yang bisa kuberi adalah mendoakanmu, karena dengan ini aku bisa menyentuhmu, dan saat ini lah aku mengerti alasan Tuhan menciptakan air mata, karena selain waktu, air mata lah yang akan menyembuhkan luka-luka. Ingatlah, di hatiku lah sebenar-benarnya kau ada, dan di denyut nadiku lah sebenar-benarnya kau hidup. Mungkin itu adalah kalimat yang tepat dari kisah Ofik. Dan barangkali benar rupanya; lelaki jatuh cinta hanya sekali, sisanya adalah menjalani hidup. Dan boleh jadi kisah Ofik adalah bukti nyata. Bukti nyata. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi