Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2024

Sore sorai

Pukul 16 mataku baru terbuka setelah melewati mimpi di tidur siang bolong. Rupanya hujan mengguyur amat deras beberapa waktu tadi. Aku segera bergegas macam biasanya setelah bangun tidur, cuci muka dan buang air. Dan membuka ponsel, bersyukur daya baterainya berhasil penuh. Pesanmu segera kubalas walaupun sudah centang satu. Tak apa, sebab aku sendiri sudah tahu apa alasanmu. Bangun tidur tanpa pusing adalah suatu nikmat yang perlu disyukuri, maka kurayakan saja dengan bersepeda. Pukul 17 lebih kuputuskan keluar, mengayuh perlahan. Bersepeda ke arah barat memasuki gang-gang kampung, dan berbelok ke selatan menyusuri persawahan. Tepi kiri padi-padi ambruk musabab hujan disertai angin kencang beberapa hari kemarin, di tepi kanan tembok pabrik yang usang itu masih berdiri, cerobongnya masih mengepulkan asap hitam, penanda pabrik itu masih beroperasi. Semakin menyusuri jalan itu, ada banyak hal yang bisa kita saksikan, peternakan bebek, perumahan subsidi maupun non subsidi, tempat pembuang...

Desember yang akan jolly

Entah Desembermu lebih memihak ke Desember milik Efek Rumah Kaca atau December nya Neck Deep aku tak tahu, tapi sudah menjadi satu hal yang pasti bahwa Desember akrab dengan hujan di saban harinya. Deras maupun rintiknya mampu membasahi tanah hingga kemeja, kadang juga suaranya agak mengganggu tiap kali kita sama-sama bertutur. Namun beruntungnya juga kita selalu dekat dengan tempat berteduh, barangkali selepas itu kita menerobos lagi jika sudah agak reda. Kelok jalan beralas papan yang licin itu berhasil kita lalui tanpa terpeleset, hingga tempiasnya bisa kita hindari dengan bergeser. “Kamu basah?” “Ee engga” Tentu saja kita sama-sama berbohong tiap kali saling ditanya perihal itu. Orang-orang boleh saja memaknai penghujung tahun ini seenaknya, namun Desember kali ini sepertinya akan jolly, setidaknya buatku.

Observasi

Kaki perlahan melangkah, menapak pada pijakan anak tangga. Setapak demi setapak, atau sejengkal demi sejengkal. Gedung yang akrab dalam ingatan, dalam kenangan. Di mana harus belok, di mana harus naik tangga atau turun tangga, aku sendiri sudah hafal betul. Dari paling dasar hingga puncaknya terukir kisah. Kisah yang tak pernah usang. Bangunannya tinggi menjulang, kacanya basah setelah hujan. Persis seperti dulu waktu itu. Di situ dulu kita duduk sambil berteduh. Genggaman tanganmu, serta sandaran kepalamu di bahu, tapi tidak dengan hari ini. Kedai itu masih buka, bertahan bahkan berkembang. Bisa kau jumpai selain di sini. Aku tak memesannya macam dulu, tak kutawarkan pula padanya, sebab ia bukan kamu yang amat candu dengan sesapan cupnya. Sekalipun atributnya hari itu sama macam atributmu. Aku tak menyuruhnya macam itu, namun itu yang kusuka. Bukan pula karena sama denganmu. Cubitannya lirih, sebab gemas bukan benci. Akankah, akankah lagi. Keteguhan hati tampaknya masih belum benar-be...