Sore sorai
Pukul 16 mataku baru terbuka setelah melewati mimpi di tidur siang bolong. Rupanya hujan mengguyur amat deras beberapa waktu tadi. Aku segera bergegas macam biasanya setelah bangun tidur, cuci muka dan buang air. Dan membuka ponsel, bersyukur daya baterainya berhasil penuh. Pesanmu segera kubalas walaupun sudah centang satu. Tak apa, sebab aku sendiri sudah tahu apa alasanmu.
Bangun tidur tanpa pusing adalah suatu nikmat yang perlu disyukuri, maka kurayakan saja dengan bersepeda. Pukul 17 lebih kuputuskan keluar, mengayuh perlahan. Bersepeda ke arah barat memasuki gang-gang kampung, dan berbelok ke selatan menyusuri persawahan. Tepi kiri padi-padi ambruk musabab hujan disertai angin kencang beberapa hari kemarin, di tepi kanan tembok pabrik yang usang itu masih berdiri, cerobongnya masih mengepulkan asap hitam, penanda pabrik itu masih beroperasi.
Semakin menyusuri jalan itu, ada banyak hal yang bisa kita saksikan, peternakan bebek, perumahan subsidi maupun non subsidi, tempat pembuangan sampah liar, pemakaman desa, hingga orang-orang memancing di bekas sawah yang tergenang air.
Aku tidak berjanji kapan bakal mengajakmu menikmati sore macam ini. Namun jika suatu waktu ada kesempatan, mau, kan?
Komentar
Posting Komentar