Observasi

Kaki perlahan melangkah, menapak pada pijakan anak tangga. Setapak demi setapak, atau sejengkal demi sejengkal. Gedung yang akrab dalam ingatan, dalam kenangan. Di mana harus belok, di mana harus naik tangga atau turun tangga, aku sendiri sudah hafal betul. Dari paling dasar hingga puncaknya terukir kisah. Kisah yang tak pernah usang.

Bangunannya tinggi menjulang, kacanya basah setelah hujan. Persis seperti dulu waktu itu.

Di situ dulu kita duduk sambil berteduh. Genggaman tanganmu, serta sandaran kepalamu di bahu, tapi tidak dengan hari ini.

Kedai itu masih buka, bertahan bahkan berkembang. Bisa kau jumpai selain di sini. Aku tak memesannya macam dulu, tak kutawarkan pula padanya, sebab ia bukan kamu yang amat candu dengan sesapan cupnya. Sekalipun atributnya hari itu sama macam atributmu. Aku tak menyuruhnya macam itu, namun itu yang kusuka. Bukan pula karena sama denganmu.

Cubitannya lirih, sebab gemas bukan benci.

Akankah, akankah lagi.

Keteguhan hati tampaknya masih belum benar-benar teguh, namun kuupayakan penuh.

Sebab aku percaya ini bukan cinta, bukan cinta.

Hanya kekagumanku saja, tak lebih hanya kekaguman. Walaupun kadang ia membabi buta.

Kekaguman. Sekali lagi itu hanyalah kekaguman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi