Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2025

01:3- panggilan tidak kemana-mana

Kamu sudah terlelap sejak beberapa waktu tadi. Panggilan suara masih berlangsung dan tak kuakhiri, sebab sebelumnya kamu memesan supaya jangan dimatikan. Sementara, mataku masih terjaga. Kunyalakan sebatang korek dan kubakar sebatang kretek ilegal yang baru saja kubeli di warung depang gang. Maaf, tanpa seizinmu kunyalakan sebatang lagi. Barangkali pertanyaanmu yang paling kerap adalah “untuk apa?”, jawaban paling bebal adalah untuk menemani di kala sendiri macam ini. Terlebih seisi rumah sepi, hanya diri sendiri.  Aku tahu kamu bakal menggerutu di bangun pagimu nanti tatkala membaca tulisan ini. Namun tak apa. Sebab kamu dan gerutu adalah dua hal yang akrab, macam sahabat karib yang sering dijumpai di tongkrongan. Aku pun juga tahu tendensi di balik gerutumu adalah demi kebaikanku. Sebatang lagi, boleh? 

00:01, matamu hampir pejam

Sebelum kita sama-sama tidur, boleh, kan, aku menulis lagi untukmu. Begini: kelak, saat kita sama-sama menginjak kepala lima, mungkin kita sudah tidak lagi bisa menikmati kopi. Sebab apa? sebab planet ini kian panas. Bisa jadi ia tak lagi bisa tumbuh subur macam sekarang. Lalu, apa upaya kita ? apa yang mampu kita buat?. Tentu saja bersyukur adalah jawaban paling pelik. Dan bentuk syukur kita adalah dengan menghabiskan segelas kopi, entah dingin atau panas, yang kita seduh atau yang kita pesan. Yang kuseduhkan untukmu, atau dari barista lain. Ah, cukup, ya. Mari kita sama-sama berdoa, untuk apa "semoga mimpimu indah". hmmm

Secarik untuk Fitra Hanggana

Pria rambut gondrong itu tiba tepat pukul 20.30, ia menyapaku akrab macam biasanya. Ia adalah Fitra Hanggana, kawanku yang sudah lama tak  kujumpai barangkali sekedar berpapasan di jalan. Sebelumnya, kukirim pesan via WhatsApp hendak meminta tolong untuk  antarkanku pulang. Kami segera melaju menembus kemacetan jalanan kota Solo. Memang sudah menjadi hal yang lumrah dan kerap, malam akhir pekan memang selalu akrab dengan kemacetan. Di sepanjang perjalanan tentu saja kita berbincang banyak, tentang bagaimana kabar keluarga, bagaimana hari-harinya, hingga tentang kesah yang tampaknya malu-malu terlontar musabab syukur masih di atas dari segalanya, sebab orang macam kami tak ada pilihan lain selain menjalani hari-hari dengan tabah.  22 hari yang akan datang adalah hari jadi kami. Ya, kamu tidak salah baca, kami sama-sama lahir di tanggal dan bulan yang sama, hanya saja ia lebih tua setahun dariku. Perihal perayaan yang akan datang tentu tak ada rencana apa pun, macam tahun ...