Secarik untuk Fitra Hanggana

Pria rambut gondrong itu tiba tepat pukul 20.30, ia menyapaku akrab macam biasanya. Ia adalah Fitra Hanggana, kawanku yang sudah lama tak  kujumpai barangkali sekedar berpapasan di jalan. Sebelumnya, kukirim pesan via WhatsApp hendak meminta tolong untuk  antarkanku pulang.

Kami segera melaju menembus kemacetan jalanan kota Solo. Memang sudah menjadi hal yang lumrah dan kerap, malam akhir pekan memang selalu akrab dengan kemacetan.

Di sepanjang perjalanan tentu saja kita berbincang banyak, tentang bagaimana kabar keluarga, bagaimana hari-harinya, hingga tentang kesah yang tampaknya malu-malu terlontar musabab syukur masih di atas dari segalanya, sebab orang macam kami tak ada pilihan lain selain menjalani hari-hari dengan tabah. 

22 hari yang akan datang adalah hari jadi kami. Ya, kamu tidak salah baca, kami sama-sama lahir di tanggal dan bulan yang sama, hanya saja ia lebih tua setahun dariku. Perihal perayaan yang akan datang tentu tak ada rencana apa pun, macam tahun lalu, macam tahun-tahun yang sudah lewat. Namun,  balapan memberi ucapan selamat lebih cepat adalah sebuah tradisi yang tampaknya masih sama-sama kita jaga. Dan sebagai kawan yang baik, sudah seharusnya begitu, kan.

Ya rabbi, berkahilah setiap upaya kami. Amin. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi