Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Sore yang sementara

Mentari masih enggan untuk pulang, pancarnya masih gagah menyinari. Sementara itu, bapak menikmati sore yang cerah dengan menyirami tanaman-tanamannya yang berada di pot-pot kecil depan rumah, sembari menunjukkan tanamannya yang mulai berbuah. Cabai rawit yang sudah mulai berbuah walau beberapa, jeruk nipis yang mulai tumbuh buahnya kecil-kecil. Walau tak pernah dipupuk, tanaman-tanaman itu disiram sebanyak dua kali sehari. Bapak begitu telaten merawatnya. Tiap kali mulai berbuah, tak jarang lebih dulu dimakan ayam sebelum kami memetiknya. Oleh karenanya, syukur dan cemas menjadi dua hal yang melekat, bersyukur bisa melihat tanamannya berbuah, dan cemas sebab khawatir tak bisa menikmati hasilnya. Kadang memang begitulah kehidupan, apa yang kita tanam belum tentu kita menuai juga hasilnya. Namun bagaimanapun, alangkah baiknya kita selalu menanam yang baik, hal-hal baik. Dan merawat, merawatlah, merawat kehidupan. 21/12/23

Rabu siang bulan Juli

Rabu siang akhir bulan Juli kali itu jalanan Honggowongso tampak lengang, para pedagang kaki lima masih setia menunggu pembeli. Bakso goreng 10 tusuk untukmu dan batagor lima ribu untukku semoga mampu mengganjal perut lapar yang belum sarapan sejak pagi tadi. Lima belas menit yang akan datang adalah jam masuk kerja, sementara tempat kerjamu tinggal sejengkal lagi sampai, kupelankan laju sepeda motor supaya bisa bercerita lebih lagi denganmu sebelum kita berpisah walau malam nanti masih jumpa. Cium tangan tanpa cium pipi menjadi salam pamit. Selamat bekerja untukmu, dan akan kunikmati hari liburku.

4/31 (6)

Selepas Isya' ia tiba tanpa warta, pesan singkat apalagi. Sepedanya disandarkan, berdiri ditopang motor lainnya. Cappuccino menjadi pembuka, berbarengan dengan Satya. Bakwan jagung menyusul. Serta House Ginger Ale dan lumpia di barisan selanjutnya. Bicara, bicara dan terus bicara. Tanpa upload sosial media. Berkeliling, memandang. Jam sembilan malam ia pulang. Mengayuh lagi. Sampai di mana, sana. Sini sana. Bah, tetaplah bergembira ria.

I love you yang ke sekian kali

Americano buatanku tadi sore mungkin tak begitu kau suka, sebab kamu belum terbiasa meminumnya. Tapi jajanan tradisional dan es teh wedangan di suatu malam bisa jadi dua hal yang serasi untuk antarkanmu pulang. Pesan singkat maupun panjang darimu menjadi yang paling akhir sebelum mataku terpejam. I love you, I love you too atau i love you more barangkali. Adalah kalimat latah yang kita sukai. Tapi kalimat semacam itu tidak melulu mendapatkan jawaban yang diinginkan kalau kata sebagian orang. Satu waktu aku pernah berkata padamu di perjalanan tentang kalimat tersebut, bahwa kadang hanya mendapat jawaban emoticon senyum kalau itu di chat , ada pula yang membalas dengan kalimat “kita cuma teman”. “Tapi itu bukan kita, kan?” Begitu tanyamu dari jok belakang. “Tentu”.