Jumat malam di kota Solo

Kamu mengajakku mencari sesuatu yang hangat sebelum benar-benar pulang ke rumah, dan wedang ronde menjadi pilihan paling tepat untuk dinikmati di cuaca macam ini. Sepeda motor segera melaju, ronde di sekitar Gladak adalah tujuannya.

Di sepanjang perjalanan kamu bercerita tentang tamumu yang memberi uang tip dan minta maaf sekaligus berterima kasih.

“Nanti rondenya aku yang bayar” begitu ucapmu dari jok belakang sambil menyandarkan dagumu di bahuku. Aku mengiyakan sambil tersenyum.

Ronde di perempatan Gladak yang biasa kita beli penuh pengunjung, maka kita tidak berhenti, kita memutuskan untuk berhenti di penjual selanjutnya, di tepi kiri dekat halte. Dipesanlah dua mangkuk kecil. Wedang ronde di sini tampaknya lebih enak, jahenya lebih kuat, ia mampu menghangatkan badan, juga suasana.

Beberapa menit kemudian setelah tandas dua mangkuk masing-masing, kita bergegas pulang. Di perjalanan menuju pulang kita kembali berbincang, perihal banyaknya coffeeshop baru yang hadir di kota Solo, semakin ke sini semakin banyak. Pating tlecek. Juga terbersit beberapa tanya yang belum terjawab, salah satunya adalah apakah hal semacam ini juga terjadi di kota-kota lain selain Solo. Perihal kopi dan coffeeshop tentu saja tak pernah berakhir untuk dibicarakan, apalagi dituliskan. Maka nikmati saja.

Setelah sampai di depan gerbang kos, aku pamit pulang lebih cepat. Cium tangan adalah salam paling intim di akhir pertemuan, juga sebagai pengingat bahwa besok kita berjumpa lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi