Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Hari Guru 2025

Sore hari kelar istirahat kerja, ia menawarkan secangkir teh untuk diseruput dengan segera. Di pagi menjelang siang, ia berikan uang saku untukku, “nanti misal mau dipakai buat nongkrong” begitu ucapnya sambil senyum. 1970(55) dan 2003(menjelang 22). Ia dan ia, dua sosok yang berbeda namun melekat pada diri. Keduanya adalah guru; satu sosok mendewasakan dan mengajarkan ketabahan, satunya mengajarkan kesederhanaan. Ia dan ia adalah bagian dalam hidup yang selalu kubanggakan. Selalu begitu, selamanya begitu. Dan akan terus begitu.

Bajingan

Apa yang lebih bajingan dari kalibrasi di pagi buta yang tak kunjung ketemu rasa? Apa yang lebih bajingan dari bosmu yang bebal? Apa yang lebih bajingan dari rekan kerja yang toksik? Apa yang lebih bajingan dari uang yang habis di pertengahan bulan? Semua serba bajingan tatkala kenyataan tak sesuai harapan. Semua serba bajingan jika apa saja tak sesuai yang kau inginkan. Meskipun demikian, tetaplah menjalani hidup walaupun latah mengumpat bajingan.

Si Bungsu

Ia kenakan kemeja putih dan jas lalu bersiap di pagi yang teramat buta. Kemeja kusut tanpa disetrika, sebab tak ada, dan tak mengapa pula. Acara demi acara ia ikuti dan amati. Memang begitu kerjanya. Tiga belas tahun tanpa belas ibu, ia merana, meronta. Namun hari demi hari berhasil ia jalani hingga sejauh ini. Ia tetap hidup untuk diri dan sekitarnya. Si bungsu tetap tumbuh, menatap segala ketidakmungkinan dengan segala pemberontakan dan kekecewaan.