Si Bungsu

Ia kenakan kemeja putih dan jas lalu bersiap di pagi yang teramat buta. Kemeja kusut tanpa disetrika, sebab tak ada, dan tak mengapa pula.

Acara demi acara ia ikuti dan amati. Memang begitu kerjanya.

Tiga belas tahun tanpa belas ibu, ia merana, meronta. Namun hari demi hari berhasil ia jalani hingga sejauh ini. Ia tetap hidup untuk diri dan sekitarnya.

Si bungsu tetap tumbuh, menatap segala ketidakmungkinan dengan segala pemberontakan dan kekecewaan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi