Postingan

Anjing yang baik

  Semenjak anjingku yang paling baik pergi, aku tak pernah benar-benar ingin mencari pengganti. Hingga pada satu waktu sesama pencinta tiba dalam sekejap, ia pandai merawat titipan, piaraannya banyak, lebih dari yang sempat kumiliki, tapi sayang ia tak mau benar-benar berbagi. Ya sudahlah. Lalu, datang tanpa disangka seekor, kini betina, ia mudah sekali dididik, baik pula penurut, tapi sekejap ia pergi, benar-benar pergi. Marah sebab kawanan lain dari gang sebelah. Aku tak bisa mencegah apalagi memaksanya. Lalu di saat yang amat tergesa, diamanahilah aku oleh Tuhan. Amanah itu kujaga, demi seekor yang amat lucu, benar-benar lucu; tingkah dan sifatnya. Tapi tampaknya, ia tak pernah benar-benar tulus macam anjingku yang pergi itu. Dan benar saja kiranya, anjing yang baik hanya dimiliki sekali dalam seumur hidup, ia tak pernah datang lagi. Meskipun begitu, kisah tentangnya tetap tinggal dalam sanubari. Ia tetaplah ia, baik buruknya kini dirindukan. Ah, anjing.

Stage by stage

  Lalu, apa yang bisa kau harapkan pada jebakan misal-misal? Bualan, omong kosong belaka, hingga tipu daya manusia yang kian menggila. Di usia menjelang dekade ketiga ketabahanmu kian luas, lebih luas ketimbang egomu, Sementara sekitarmu semaunya (seenaknya). Doamu saban hari tak pernah berubah kecuali tergesa jam masuk kerja. Tanggung jawabmu? Tentu saja sampai akhir nafas. Seyogianya.

7/30. Closing Shift

Sajak usang kelas pekerja menutup satu shift yang memuakkan. Uap pada mesin espresso malam itu terbuang, berisik, nyaring, mengalahkan keluh kesah yang hanya diam dalam batin maupun pikiran. Tiap bait satu lagu milik The Cloves And The Tobacco itu tentu saja sarat akan makna, terasa kian relate pada hidup yang kini beranjak dari satu stage ke stage selanjutnya. Tentang mimpi dan harapan, ia sering kali payah pada kenyataan pahit. Tapi, proses tetaplah proses, ia kudu terus berjalan meski tertatih. Sebab sudah selayaknya harapan itu dituju, tidak hanya ditunggu.

Secarik untuk Rosyad. Selamat menikah, kawan

Pada malam di satu perjalanan menuju pulang dari Pacitan, di kursi depan supermarket, asap dari sebatang kretek mengepul ke atas dan sirna disapu angin. Kamu menyeletuk, begini: “kalau ada perempuan yang mau kuajak menikah, sekalipun dengan syarat aku harus berhenti merokok, pasti akan kuturuti”. Kalimat itu diakhiri dengan diam yang panjang. Dalam hati kuberdoa semoga segera, yang terbaik untukmu. Waktu berlalu, sebulan atau dua bulan aku lupa, kita kembali bertemu, di wedangan Mas Surat. Kamu bercerita panjang, bahwa kamu telah menemukan seseorang yang menjadi takdirmu, dan kamu mengatakan kalau lebih dulu menikah daripada aku. Dan satu lagi, kamu sudah berhenti dari kebiasaan lamamu: merokok. Aku terdiam sejenak, tertegun, juga bersyukur. Dan hari ini, pagi tadi tepatnya, kamu telah melepas masa lajangmu, kuucapkan selamat dengan tulus sekalipun hanya lewat pesan singkat. Tangis tipis mengiringi perjalananku berangkat kerja siang tadi. Perasaan yang campur antara haru dan bahagia....

Hari Guru 2025

Sore hari kelar istirahat kerja, ia menawarkan secangkir teh untuk diseruput dengan segera. Di pagi menjelang siang, ia berikan uang saku untukku, “nanti misal mau dipakai buat nongkrong” begitu ucapnya sambil senyum. 1970(55) dan 2003(menjelang 22). Ia dan ia, dua sosok yang berbeda namun melekat pada diri. Keduanya adalah guru; satu sosok mendewasakan dan mengajarkan ketabahan, satunya mengajarkan kesederhanaan. Ia dan ia adalah bagian dalam hidup yang selalu kubanggakan. Selalu begitu, selamanya begitu. Dan akan terus begitu.

Bajingan

Apa yang lebih bajingan dari kalibrasi di pagi buta yang tak kunjung ketemu rasa? Apa yang lebih bajingan dari bosmu yang bebal? Apa yang lebih bajingan dari rekan kerja yang toksik? Apa yang lebih bajingan dari uang yang habis di pertengahan bulan? Semua serba bajingan tatkala kenyataan tak sesuai harapan. Semua serba bajingan jika apa saja tak sesuai yang kau inginkan. Meskipun demikian, tetaplah menjalani hidup walaupun latah mengumpat bajingan.

Si Bungsu

Ia kenakan kemeja putih dan jas lalu bersiap di pagi yang teramat buta. Kemeja kusut tanpa disetrika, sebab tak ada, dan tak mengapa pula. Acara demi acara ia ikuti dan amati. Memang begitu kerjanya. Tiga belas tahun tanpa belas ibu, ia merana, meronta. Namun hari demi hari berhasil ia jalani hingga sejauh ini. Ia tetap hidup untuk diri dan sekitarnya. Si bungsu tetap tumbuh, menatap segala ketidakmungkinan dengan segala pemberontakan dan kekecewaan.