Kita, Desember dan secangkir kopi.
Di hujan yang perlahan mulai reda, walau masih gerimis kecil, Noel dan Anna memutuskan
untuk bertemu di kedai kopi kecil di sudut jalan Slamet Riyadi. Keduanya
berangkat dari rumah masing-masing, Noel menembus rintik-rintik hujan dengan motor
tuanya sedangkan Anna memacu Vespa maticnya pelan-pelan.
Noel tiba lebih dulu di kedai kopi, dan disusul Anna sepuluh
menit kemudian. Anna segera mendekat ke arah Noel yang sedang menyedot gudang
garamnya dan segera menggandengnya masuk ke kedai.
Mereka berdua memesan kopi dengan varian rasa yang sama; hot latte. Mereka segera duduk sembari menunggu pesanannya dibuatkan oleh Barista. Sembari berbincang ringan, Anna menyulut Marlboro Ice Burst favoritnya.
“Kok kamu lama ngga nulis, mas ?” begitu tanya Anna membuka obrolan.
“Ini aku baru nulis” jawab Noel dengan senyum yang ramah sambil
menunjukkan layar ponselnya dengan halaman Microsoft Word.
Marlboro kunjung habis disulut api dan pesanannya kini telah datang. Anna tak mengabadikan momen barangkali dibuat story atau dijadikan feed di Instagramnya. Anna berpindah tempat duduk yang sebelumnya di depan Noel, kini duduk di samping dan menyandarkan kepalanya di pundak Noel.
“Ada apa ?” tanya Noel sambil mengusap rambut kekasihnya.
“Aku bingung, mas” jawab Anna singkat dengan raut getirnya.
Anna menjelaskan apa saja beban yang datang saban
hari, ia bingung mau memilih kuliah di kota Solo atas pilihannya ia sendiri
atau menuruti keinginan sang ayah yang ingin ia kuliah di luar kota. Noel paham
betul bagaimana sikap ayah kekasihnya itu yang begitu otoriter terhadap
anaknya. Noel terdiam beberapa menit sebab ia juga bingung hendak menjawab apa.
Dan perbincangan macam itu rasanya kurang tepat baginya jika diobrolkan di
kedai kopi.
“Besok kita ngobrol di lain tempat aja” begitu ucap Noel
menenangkan diiringi dengan tetesan air mata dari Anna.
Komentar
Posting Komentar