Pulang

Jatah cuti 3 hari tentu sangat istimewa buatku sebagai seorang pekerja penuh waktu yang kadang liburnya kurang puas. Aku memutar pikiran, cuti 3 hari akan aku manfaatkan buat apa. Tentu sudah muncul opsi di kepala; berkunjung ke rumah bude di Semarang, atau bertolak ke rumah kakak di Surabaya. Setelah berpikir dan mempertimbangkan, juga menengok isi dompet yang tak selalu penuh ini, terlebih di tanggal tua. Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke kampung halaman, ya, ke Manyaran, Wonogiri.

Sepulang kerja di hari terakhir sebelum libur, aku menyiapkan segala sesuatu, mulai dari menata pakaian ganti, membeli oleh-oleh dan mengecek kondisi motor yang siap melaju di perjalanan yang lumayan jauh.

Hari berganti, aku terbangun tepat ketika alarm pertamaku berbunyi, pukul setengah 5 pagi. Sial, aku malah ketiduran macam hari-hari biasanya, dan terbangun lagi pada pukul 10.00, aku segera mengumpulkan niat dan bergegas mandi. Selesai mandi dan motor sudah siap dipacu, aku segera menancap gas. Di perjalanan yang hanya sendiri tentu aku tak lupa sambil mendengarkan lagu-lagu mengenakan headset. Jalan menuju pulang begitu lengang, angin sepoi-sepoi menemani perjalanan berbarengan dengan lagu-lagu slow rock yang berputar membuat perjalananku tambah syahdu. Di tengah-tengah perjalanan aku sempat mampir di warung kecil di tengah desa, barangkali mampir beli minum dan membakar sebatang rokok. Tidak begitu lama, aku kembali melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di kampung halaman, budeku menyambut hangat kedatanganku, juga dengan keponakanku yang masih berumur 9 bulan yang langsung meminta gendong. “Istirahat dulu, terus makan” ucap budeku. Dan ternyata, tepat saat aku pulang, bude memasak oseng tempe kesukaanku. Aku segera makan sebab tadi pagi juga tidak sempat sarapan di rumah. “Nanti tidur sini, kan ?” tanya budeku, aku mengangguk mengiyakan. Selepas makan aku berkunjung ke rumah saudara-saudaraku yang lain walaupun hanya sebentar-sebentar.

Mentari kian beranjak menuju peraduan. Hari nian petang, lagi-lagi aku melewatkan sore dengan ketiduran macam hari-hari libur di Solo. Terbangun setelah maghrib dan bingung hendak pergi ke mana sebab di desa setelah maghrib pintu-pintu rumah sudah ditutup dan sunyi akrab menyelimuti malamnya. Sampai pukul 23.00 mataku sulit terlelap, hanya ditemani rokok dan camilan seadanya sebab orang-orang rumah sudah mendengkur di atas kasur masing-masing. Aku beranjak pindah ke kasur saat jarum jam menunjukkan pukul 00.00. Menjelang tidur aku teringat hari itu hari ulang tahun mantan pacarku. Aku mengirim pesan ucapan padanya, walaupun sudah tak akrab seperti dulu tapi hubunganku dengan dia masih terjalin meskipun sekedar saling sapa di sosial media. Dan tak begitu lama aku pun terlelap dalam tidurku.

Mentari pagi yang cerah menyambut di hari berikutnya, orang-orang di rumah sudah bergelut dengan kesibukannya masing-masing. Bude masak di dapur, pakde beranjak ke kebun, kakak sepupuku sibuk menimang-nimang anaknya yang sedang rewel, sementara aku baru saja bangun dan segera mandi. Menjelang siang pakdeku pulang dari kebun dengan membawa satu buah kelapa muda. “Mau degan ngga ?” ucap pakdeku menawarkan, tidak begitu lama pakde mengupas kelapa muda dan memberikannya padaku. Minuman yang pas untuk siang yang terik, terlebih lagi kelapa muda yang baru saja dipetik dari pohonnya; segar sekali. Sehabis menikmati kelapa muda, pakde mengajakku memetik buah rambutan di belakang rumah yang siap dipanen untuk dibawa ke Solo saat aku pulang nanti.

Liburanku kali ini begitu puas walau hanya kuhabiskan di kampung halaman. Buatku, Manyaran adalah tempatku pulang sekalipun aku telah pergi jauh.

Diberkatilah orang-orang di sana, doaku untuk hari ini, besok dan seterusnya.


 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi