Bandung dan senyum manismu.

Hawa dingin di malam hari menjadi hal yang wajib untuk kota Solo dan sekitarnya musabab hujan turun melulu saban hari. Tentu orang-orang memilih untuk menarik selimut dan tidur lebih cepat dari biasanya, terlebih lagi hawa dingin macam itu membuat orang-orang mager melakukan sesuatu.

Sementara, Noel dan Anna bergegas berangkat menuju stasiun dari rumah masing-masing, mereka berdua hendak berlibur ke Bandung dan berangkat malam itu juga. Setelah mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa ke Bandung, Noel segera melaju dengan Astreanya dengan pelan-pelan sebab motornya pun tak bisa melaju kencang macam motor-motor yang lain. Sedangkan Anna memilih memesan Grab Car untuk mengantarkannya ke stasiun sebab gerimis tak juga kunjung reda. Noel tiba di stasiun lebih dulu dan disusul Anna beberapa saat kemudian. Mereka menunggu kereta tiba di kursi paling ujung sembari berbincang ringan.

“Kamu bawa baju ganti berapa ?” tanya Noel.

“Satu saja” jawab Anna sambil menunjukkan isi tasnya.

“Loh, kan kita di Bandung seminggu”

“Lalu, gimana dong ?” tanya Anna dengan raut wajah yang getir.

“ Ya sudah, nanti beli di sana saja”.

Percakapan mereka ditutup dengan datangnya kereta yang hendak mengantarkannya ke Bandung. Kereta tiba pukul 20.00, Noel menggandeng tangan Anna dan segera masuk ke dalam gerbong nomor 6. Malam itu gerbong tidak begitu penuh, mereka berdua duduk di kursi paling depan. “kamu duduk aja” ucap Noel pada Anna, sedang Noel sibuk menata barang bawaan.

Perjalanan dari Solo ke Bandung memakan waktu kurang lebih 8 jam, Anna yang jarang sekali begadang pamit untuk tidur lebih dulu. Ia bersandar di pundak Noel yang duduk rapat di sebelahnya. “Aku tidur dulu, ya, mas” ucap Anna berpamitan dan dijawab dengan senyum oleh Noel sambil mengusap kepalanya.

Arloji menunjukkan pukul 00.00, kaca jendela berembun, Anna tampak kedinginan dan memeluk Noel yang belum juga terlelap. Noel tampak asyik membaca novel yang baru saja ia beli kemarin lusa. Noel yang melihat kekasihnya kedinginan itu langsung bergegas mengambil selimut dari dalam tas dan diselimutkan pada Anna yang sudah terlelap sejak tadi. Sesekali Noel pergi ke toilet barangkali buang air kecil dan menyulut rokok di belakang gerbong, ia tak bisa tidur malam itu.

Tepat pukul 04.00 pagi kereta tiba di tujuan. Kereta berhenti di stasiun Bandung. Noel yang sama sekali tidak tidur mulai merasakan kantuk, namun ia berusaha menahan kantuknya dan segera membangunkan Anna kemudian bergegas turun.

“Mau sarapan atau ngopi dulu ?” ucap Noel menawarkan pada Anna.

“Terserah” jawab Anna sambil menguap.

Mereka berjalan keluar stasiun dan menyeberang jalan, di ujung sana ada warung kecil, Noel memesan dua gelas kopi hitam panas. Noel segera menyeruput kopinya dan membakar gudang garam untuk menghangatkan badan. Sementara Anna kembali tertidur di pangkuan Noel. “Masih ngantuk ?” tanya Noel sambil was-was menjaga bara tembakau supaya tidak rontok dan jatuh ke arah kekasihnya. Tidak begitu lama, Anna terbangun dan segera menyeruput kopinya yang keburu dingin. Mereka berdua memesan lagi, dua gelas teh manis dan juga dua mie rebus.

“Aku cantik ngga, mas ?” ucap Anna sambil meniup mie yang masih panas.

“Cantik” jawab Noel singkat sambil tersenyum.

“Tapi kan belum mandi”

“Lalu ? Memangnya harus mandi dulu biar kelihatan cantik ?”.  Anna terdiam dan memilih untuk melanjutkan makan.

“Ada ngga wanita cantik selain aku ?”. Anna kembali bertanya.

“Ngga ada” jawab Noel, yang juga sudah selesai makan.

“Karena aku pacarmu, kan”

“Emm, ya ngga juga”

“Kalau yang paling cantik siapa ?”

“Wulan Guritno”

“Kalau kamu bukan pacarku, kamu ingin jadi pacar siapa ?”

“Wulan Guritno”.

Sang surya telah terbit, pagi yang cerah menyambut kedatangan Noel dan Anna di kota Bandung untuk yang pertama kalinya.

Bandung sendiri sebenarnya tak asing lagi bagi Noel, ia telah beberapa kali berkunjung barangkali sekedar menonton sepak bola.

Anna yang baru pertama kali datang ke Bandung hanya mengikuti ajakan Noel hendak ke mana saja. Noel tidak mengajak Anna ke Gedung Sate, tidak juga ke Gedung Merdeka, pun juga tidak ke Museum Geologi. Noel mengajak Anna ke sebuah toko pakaian casual yang terkenal di Bandung. Ya, Prung Terrace Wear. Mereka memesan ojek online untuk mengantarkan menuju tempat tersebut. Anna langsung masuk ke toko dan memilih pakaian sebab ia juga tak banyak membawa pakaian ganti. Sembari menunggu Anna memilih pakaian, Noel duduk santai di depan toko sambil merokok. Kantuk berat menyerang Noel yang semalam tak tidur sedikit pun. Setelah selesai memilih pakaian, Anna mencari Noel, ternyata ia ketiduran di kursi depan toko. “Mas, bangun”. Noel terbelalak dan segera membayar pakaian yang dibeli Anna. “Kita cari penginapan dulu, ya. Aku ngantuk banget” ucap Noel pada Anna. Mereka bergegas menuju hotel yang dipesan lewat aplikasi.

Sesampainya di hotel, Noel langsung berbaring di atas kasur. Mereka rehat sejenak di hotel dan hendak melanjutkan berkunjung ke destinasi yang lain nanti malam atau besok. Toh, Bandung tak pernah bisa dinikmati dalam waktu sehari saja.

Ribuan bintang menghiasi langit kota Bandung di malam yang cerah. Noel dan Anna masih bingung mencari makan di aplikasi Go Food semenjak terbangun dari tidur bada maghrib tadi.

“Daripada bingung mau makan apa, toh juga ngga nemu-nemu, mending keluar aja, yuk” ajak Noel pada Anna yang sudah mulai rusak moodnya.

“Kamu aja yang keluar, aku di sini aja” jawab Anna sambil cemberut.

“Emang kamu ngga pengen cari makan di luar sambil menikmati malam di kota Bandung ?, Kamu belum pernah lo” ucap Noel merayu Anna.

“Dasar pembual, ya sudah ayo”. Anna segera bergegas dari bed dan menyusul Noel yang hendak membuka pintu.

Mereka berjalan menyusuri ruas kota Bandung sambil tolah-toleh mencari warung makan. Sampai di ujung trotoar jalan, mereka tak menemukan warung makan satu pun. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti sejenak di kursi taman kota. Noel menyulut rokok, sementara Anna sibuk mengambil gambar di sekitar tempat mereka duduk.

“Mas, itu kayaknya ada warung” ucap Anna sambil menunjuk ke arah seberang jalan.

Mereka berdua langsung berlari menyeberang jalan melalui zebra cross. Sial, pemilik warung sudah berkemas-kemas untuk pulang sebab dagangannya sudah banyak yang habis, padahal juga masih pukul 20.00.

“Udah mau tutup, bu ?” tanya Noel pada pemilik Warung dengan nafas terengah-engah.

“Iya, nak. Soalnya tinggal telur saja, sama nasi sedikit”.

“Ya udah gapapa, bu. Saya pesan dua piring nasi telur sama dua gelas teh hangat, ya”.

“O, ya. Sebentar, ya. Silakan duduk dulu, nak”.

“Baik, bu”.

Noel dan Anna duduk di kursi depan meja sembari menunggu pemilik warung menyiapkan makanan yang dipesan. Mereka berdua sama-sama diam dan menghela nafas sebab masih terengah setelah berlari menyeberang jalan tadi, terlebih perutnya juga sama-sama keroncongan. Pemilik warung berjalan ke arah tempat mereka duduk “Ini, nak. Silakan”.

“Makasih, bu” jawab Noel dan Anna. Mereka berdua menyantap makanan dengan sangat lahap. “Alhamdulillah” ucap Noel bersyukur sambil sendawa pelan. Anna yang juga sudah selesai makan menertawakan Noel.

“Kamu kelaparan, ya” ejek Anna

“Kamu juga” balas Noel.

Pemilik warung duduk di sebelah Noel setelah mereka selesai makan.

“Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, dari mana, nak ?” tanya ibu pemilik warung membuka percakapan.

“Dari Solo, bu” jawab Noel dan Anna secara bersamaan.

“Wah. Jauh, ya”.

“Ibu sendiri asli sini, bu ?” tanya Anna.

“Iya, nak. Ibu lahir dan besar di sini, di Bandung”.

“Ke Bandung dalam rangka apa, nak ?” ucap ibu itu lanjut bertanya.

“Sekedar berlibur aja, bu” jawab Noel.

Sang pemilik warung tersebut menjelaskan perihal destinasi wisata yang wajib dikunjungi saat berlibur di Bandung. Noel dan Anna terdiam terpana dengan penjelasan ibu tersebut yang menjelaskan bak seorang tour guide. 

Satu jam berlalu, Noel dan Anna membayar apa saja yang ia makan tadi. Mereka segera kembali ke hotel setelah pukul 21.00.

“Kuat jalan ngga ?” tanya Noel pada Anna.

“Gendong” jawab Anna dengan manja.

“Jalan sendiri dong. Udah besar kok minta gendong” ucap Noel sambil berjalan lebih dulu.

Jalanan masih ramai walaupun bukan akhir pekan, Noel dan Anna berjalan santai seiring dengan pedagang kaki lima menawarkan dagangannya di sisi trotoar jalan.

Sesampainya di hotel Noel duduk di gazebo yang berada di tempat parkir depan hotel, sementara Anna langsung berjalan menuju kamar yang berada di lantai dua.

“Aku duluan, ya, mas” ucap Anna berpamitan.

“Ya, aku mau merokok dulu” jawab Noel sambil mengeluarkan satu pack gudang garam dari kantong jaket.

Noel duduk santai menikmati semilir angin malam sambil menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang dan pucatnya rembulan. Bara tembakau berjalan mendekat ke filternya dan sebatang rokok perlahan berubah jadi abu. Beberapa menit berselang Noel menyusul Anna yang sudah berada di dalam kamar. Sesampainya di depan pintu kamar, Noel mengetuk pintu pelan namun berkali-kali. Ia mencoba menelepon Anna setelah beberapa ketukan namun pintu tak kunjung dibukakan.

“Iya. Tunggu sebentar” ucap Anna lewat telepon.

Anna membuka pintu sambil menangis. Noel kaget dan juga bingung.

“Kamu kenapa ?” tanya Noel sambil memegang kedua tangan Anna.

Anna tak menjawab pertanyaan Noel dan kembali duduk di atas kasur.

“Kamu kenapa menangis ?” ucap Noel bertanya lagi sambil mengusap air mata Anna yang menetes deras di pipinya.

Anna menjelaskan pada Noel bahwa ayahnya baru saja menelepon dan menyuruh ia pulang segera. Anna tidak bisa menolak perintah sang ayah sebab apa saja yang diucapkan ayahnya harus dipatuhi, jika menolak tentu kemarahan sang ayah memuncak, dan ia khawatir jika ibunya yang jadi pelampiasan amarahnya. Noel mencoba menenangkan Anna setelah mendengarkan penjelasan tersebut. Ia tak ingin kekasihnya takut dan khawatir berlebihan, apalagi bersedih. Terlebih seorang lelaki, tentu tak ingin perempuannya disakiti oleh siapa pun.

“Ya sudah, besok kita pulang” begitu ucap Noel.

“Bawa aku pergi, mas” ucap Anna sambil menangis di dada Noel.

“Sudah. Ayo tidur” Noel membaringkan Anna di kasur, sementara ia berada tepat di sampingnya sambil mengusap rambut kekasihnya yang sedang bersedih.

“Jangan menangis terus, udah malam” ucap Noel lirih di depan wajah Anna yang masih berkaca-kaca.

Noel mencium lembut bibir Anna yang tipis, tentu saja Anna membalas ciuman itu.

“Jangan menangis lagi, ya” ucap Noel setelah melepas ciuman.

Anna mengangguk mengiyakan. Noel mencoba melepas apa saja yang dikenakan oleh Anna.

“Sekarang udah mulai berani, ya, mas ?” ucap Anna dengan senyum manisnya.

“Asal kamu jangan bersedih” jawab Noel sambil mencium pipi kanan kiri Anna.

Mereka sama-sama melepas nafsu di malam terakhirnya di Bandung. Mereka berdua tak banyak bicara sepanjang mereka bercinta. Anna mendesah pelan berbarengan dengan deru nafas Noel yang terengah. Anna mengerang panjang pada saat ejakulasi, disusul Noel yang tersenyum lega dengan peluh keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Akhirnya, mereka berdua tertidur pulas tanpa busana.

Noel terbangun saat jarum jam berjalan menuju angka empat. Ia menyelimuti kekasihnya yang tampak kedinginan dan bergegas mandi. Selepas mandi, Noel membangunkan Anna yang masih pulas dalam mimpinya.

“Ayo bangun, sayang” ucap Noel dengan mencium bibir Anna.

Anna terbangun saat alarmnya berbunyi, ia segera mandi dan membantu Noel yang mengemas barang bawaan. Mereka keluar kamar pada pukul 05.00 pagi dan bergegas terburu-buru menuju stasiun.

“Udah pesan tiket, mas ?” tanya Anna.

“Nanti cari di loket saja” jawab Noel sambil tergesa.

Sesampainya di stasiun, Noel membeli tiket kereta yang menuju Solo. Beruntungnya, tiket masih banyak tersedia di loket. Kereta tiba pukul 05.30 pagi, mereka berdua masih ada waktu untuk sarapan walau hanya dengan roti dan kopi hangat.

Kereta tiba beberapa menit kemudian. Noel dan Anna segera masuk gerbong untuk mencari tempat duduk. Bangku di dalam gerbong kosong, tak ada satu pun yang menempati. Noel menuju tempat merokok yang berada di belakang gerbong, sedangkan Anna langsung duduk dan kembali melanjutkan tidur. Noel kembali beberapa saat kemudian setelah menghabiskan sebatang rokok.

“Tidur lagi” ucap Noel yang melihat Anna kembali tidur sambil memeluk tas yang membawa barang bawaannya.

“Daripada memeluk tas mending peluk aku saja sini” ucap Noel sembari menyingkirkan tas yang berada di pelukan Anna.

Satu gerbong hanya berisi dua orang yang tidur saling berpelukan. Anna terbangun pukul 08.00 pagi, disusul Noel yang terbangun beberapa saat kemudian karena kebelet buang air kecil. Noel kembali duduk di samping Anna yang bermain ponsel.

“Aku ada sesuatu buat kamu loh, mas” ucap Anna pada Noel.

“Sesuatu apa ?”

“Tapi kamu harus tutup mata dulu”

“Ya” jawab Noel sambil memejamkan mata.

“Dalam hitungan ke tiga kamu bisa membuka mata”

Noel mengangguk.

“Satu, dua, tiga” sepatu Adidas Warsawa ditenteng oleh Anna tepat di depan Noel.

“Ini buat kamu, mas” ucap Anna dengan senyuman.

“Kamu beli di mana ?” tanya Noel penasaran.

“Di Bandung, di Prung”.

“Kok aku ngga tahu ?” tanya Noel.

“Kan kejutan, kalau kamu tahu jadi ngga kejutan dong” jawab Anna sambil tertawa kecil.

“Terima kasih, sayangku” ucap Noel sambil memeluk dan mencium pipi kanan kiri Anna.

“Dirawat, ya, mas” pesan Anna pada Noel.

“Tentu” jawab Noel sambil tersenyum.

Kereta melaju dengan cepat. Pukul 13.00 kereta hampir tiba di stasiun Purwosari. Noel dan Anna bersiap-siap turun.

Panas yang terik menyambut kepulangan Noel dan Anna di kota Solo. Mereka berjalan menuju tempat parkir motor dengan cepat. Noel mengambil motornya yang berada di ujung.

“Aku pulang sendiri aja, ya, mas” ucap Anna yang sudah memesan Grab Car.

“Oke. Hati-hati, ya” jawab Noel yang siap melaju dengan motornya setelah Grab Car yang dipesan Anna tiba.

“Dada”.

“Daaa”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi