Kembali membual
Kubuka
tudung saji yang tak kosong macam hari-hari biasanya, satu butir telur rebus
cukup untuk mengganjal perut yang kosong.
Jarum
jam berjalan perlahan, pukul 11.00 alarmku berdering kencang berulang kali.
Dengan setengah sadar aku bergegas menuju kamar mandi yang berada di seberang
pintu kamar, satu menit rasanya cukup barangkali sekedar gosok gigi dan cuci
muka. Berpacak di depan kaca, menyemprot parfum blue emotion, mengenakan
cagoule camo dan bersiap berangkat.
Jalan
Patimura tak selengang seperti biasanya. Mobil-mobil dan motor-motor berdesakan
berebut jalan. Orang-orang tak sabar, ingin cepat-cepat sampai ke tujuan. Aku
pun juga berusaha mencari celah. Di bawah terik matahari dan macetnya jalanan
tentu saja emosi orang-orang mudah sekali disulut. Tak jarang orang-orang
menggerutu dan mengumpat, juga tak luput dengan aku. Macetnya jalan siang itu akhirnya
bisa kutembus, sepeda motorku ku pacu lebih kencang dari sebelumnya. “Ealah
asu!!!!” ucapku saat lampu merah menyambut di ujung jalan.
Sepasang
roda tetap menggelinding walau tak stabil, kadang pelan, kadang juga kencang.
Tiba di jalan Slamet Riyadi pun setali tiga uang, kendaraan-kendaraan berjubel
macam semut. Langit yang sebelumnya cerah kini berganti dengan pekatnya
mendung. Pasar Gede belum kelihatan dari sini, aku hanya bisa berharap untuk
segera sampai di sana sebelum hujan turun. Tepat saat tiba di depan pintu masuk
pasar, hujan turun mak bres. “Alhamdulillah” ucapku dalam hati.
Komentar
Posting Komentar