Kembali membual

Siang yang terik menyambut bangun tidurku. Pembual yang tidurnya kepagian macam saya jarang sekali menyaksikan matahari terbit lebih awal. Orang-orang sudah sibuk bergelut dengan rutinitas masing-masing, sementara saya masih mengumpulkan nyawa sembari menguap sebab masih ngantuk.

Kubuka tudung saji yang tak kosong macam hari-hari biasanya, satu butir telur rebus cukup untuk mengganjal perut yang kosong.

Jarum jam berjalan perlahan, pukul 11.00 alarmku berdering kencang berulang kali. Dengan setengah sadar aku bergegas menuju kamar mandi yang berada di seberang pintu kamar, satu menit rasanya cukup barangkali sekedar gosok gigi dan cuci muka. Berpacak di depan kaca, menyemprot parfum blue emotion, mengenakan cagoule camo dan bersiap berangkat.

Jalan Patimura tak selengang seperti biasanya. Mobil-mobil dan motor-motor berdesakan berebut jalan. Orang-orang tak sabar, ingin cepat-cepat sampai ke tujuan. Aku pun juga berusaha mencari celah. Di bawah terik matahari dan macetnya jalanan tentu saja emosi orang-orang mudah sekali disulut. Tak jarang orang-orang menggerutu dan mengumpat, juga tak luput dengan aku. Macetnya jalan siang itu akhirnya bisa kutembus, sepeda motorku ku pacu lebih kencang dari sebelumnya. “Ealah asu!!!!” ucapku saat lampu merah menyambut di ujung jalan.

Sepasang roda tetap menggelinding walau tak stabil, kadang pelan, kadang juga kencang. Tiba di jalan Slamet Riyadi pun setali tiga uang, kendaraan-kendaraan berjubel macam semut. Langit yang sebelumnya cerah kini berganti dengan pekatnya mendung. Pasar Gede belum kelihatan dari sini, aku hanya bisa berharap untuk segera sampai di sana sebelum hujan turun. Tepat saat tiba di depan pintu masuk pasar, hujan turun mak bres. “Alhamdulillah” ucapku dalam hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi