Kopi dan obrolan tentang masa depan

Satu hari yang tiba-tiba, Anna mengajak Noel bertemu di warung kopi langganan mereka. Noel langsung mengiyakan ajakan Anna, toh ia sedang libur kerja hari itu.

Pukul 19.00 Noel bergegas menjemput Anna di kosnya dekat kampus. Sepeda motor Astrea melaju pelan macam hari-hari biasanya. Anna sudah menunggu di depan gerbang, tanpa basa-basi yang panjang Anna segera naik dan sepeda motor segera melaju ke tempat tujuan.

“Kamu wangi banget, mas” ucap Anna sambil mencium bagian belakang jaket yang dikenakan Noel.

“Memang biasanya ngga wangi, ya ?” jawab Noel.

“Ya wangi, tapi ini beda”

“Mungkin saja karena kita lama tak bertemu” jawab Noel.

Percakapan itu berakhir dengan pelukan Anna dari belakang yang erat, dan laju motor yang ditambah oleh Noel.

Cinta selalu tumbuh di atas jok Astrea. Ditambah dengan semilir angin kota Solo yang membuat suasana makin syahdu.

Sesampainya di warung kopi, mereka segera memesan, Noel memesan americano ice dengan potongan lemon sementara Anna memesan kopi susu karamel. Mereka segera memilih tempat duduk, dan dipilihlah tempat duduk yang berada di lantai dua di bagian luar.

Sembari menunggu pesanan datang, mereka berbincang ringan macam biasanya.

“Bagaimana kerjanya, mas ?” ucap Anna membuka obrolan.

“Ya seperti inilah” jawab Noel sambil tersenyum.

“O iya, mas. Aku ada sesuatu” ucap Anna sambil merogoh kan tangan ke dalam tas. Satu bungkus gudang garam filter dikeluarkan oleh Anna.

“Ini, mas. Buat kamu”

“Wah, kamu repot-repot” jawab Noel sambil menerima sebungkus gudang garam.

“Ngga kok, aku ngga repot” jawab Anna.

“Tapi sudah empat hari ini aku ngga merokok” ucap Noel.

“Serius ?” tanya Anna dengan penasaran.

“Memangnya kamu bisa hidup tanpa rokok, mas ?” ucap Anna menambahkan.

“Serius, sayang” jawab Noel sambil mengusap kepal Anna.

Anna tersenyum kegirangan meligat kekasihnya sudah berhenti merokok. Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Obrolan semakin asyik berlangsung.

Mata Anna menatap Noel dengan tajam, dan berakhir dengan senyuman saat Noel melirik ke arah wajahnya.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri ?” ucap Noel.

“Aku masih terheran-heran kok kamu bisa berhenti merokok” jawab Anna.

“Memangnya uangmu mau dibuat beli apa, mas ?” ucap Anna kembali bertanya.

“Buat nikah sama kamu, buat beli rumah” jawab Noel yang tentu saja mengejutkan Anna.

“Serius, mas ?”

Noel hanya tersenyum. Obrolan macam ini jarang sekali terjadi. Dan di saat yang tiba-tiba juga Noel mengucapkan hal tersebut yang membuat Anna penasaran tentang kebenarannya.

“Memangnya kamu ngga mau kalau kuajak nikah ?” tanya Noel pada Anna.

“Ya maulah. Tapi memang kamu serius mau mengajak aku nikah ?” jawab Anna

“Ya serius dong, memang ada nikah yang cuma bercanda” ucap Noel meyakinkan.

“Lalu bagaimana dengan sepak bolamu, bagaimana dengan masa depanmu ?” tanya Anna “Aku juga ngga buru-buru nikah, mas” tambahnya.

“Kalau aku inginnya cepat-cepat, gimana ?” ucap Noel.

“Ya aku mengikuti saja apa maumu, mas. Toh apa pun yang terjadi juga kita berdua yang menjalani”.

Percakapan itu berakhir dengan diam. Anna menguap tanda sudah mengantuk.

“Udah ngantuk ?” tanya Noel.

Anna hanya mengangguk dan disambut tangan Noel yang segera menggandengnya berjalan keluar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi