Ibu.. ibu.. ibu..

Aku bergegas pulang setelah jarum jam berjalan menuju angka 10, kota Solo sedang ramai-ramainya malam itu, terlebih lagi di malam akhir pekan. Motor-motor berjalan cepat maupun lambat, kadang menyelinap di sela-sela kerumun kendaraan lain, kadang berjalan lambat-lambat, kadang juga berjalan kencang-kencang saat ada celah. Sepeda motorku berjalan dengan kecepatan kurang lebih 60 Km/jam, kunikmati semilir angin malam sambil tolah toleh kanan kiri. Warung kaki lima ramai dikunjungi pembeli, pengamen singgah sesekali dari tongkrongan ke tongkrongan. Sesekali motorku terhenti di lampu merah, dan berjalan lagi lewati temaram, kadang kujumpai lampu kota yang kian meredup, kadang juga berpapasan dengan sepasang lampu mobil yang membuyarkan pandangan.

Memasuki gang rumahku, anak-anak kecil masih banyak yang bermain dengan teman-temannya. Sementara, sepi menyambut kedatanganku di rumah mungil ini. Orang-orang rumah pergi dengan urusan masing-masing. Aku duduk dulu di teras macam biasanya saat pulang kerja, sambil menghela nafas dan menyulut sebatang rokok. Langit cerah dengan dipenuhi bintang-bintang yang menghiasinya, daun-daun bergerak pelan karena ditiup angin. Aku masuk rumah ketika tembakau sudah habis disulut api.

Di saat yang tiba-tiba, saat merebahkan badan di atas kasur lantai yang tipis, aku teringat ibuku. Sesekali aku membayangkan sosok yang dulu akrab dengan cerewetnya itu, yang menyayangi, yang merawat, yang perhatian, dan yang kini telah pergi. Rasanya makin lama rumah ini makin sunyi. Menjalani hari-hari tanpa seorang ibu sebenarnya sudah akrab denganku selama satu dekade ini, namun di saat-saat tertentu rindu itu pasti muncul sekalipun tidak diinginkan. Macam kali ini, saat badan sudah lelah bekerja seharian, rindu malah hadir, rasanya begitu merajam batin, sebab rindu ini tak pernah bisa terbalas. Aku hanya bisa berjumpa dengannya lewat mimpi, atau dengan lamunan imaji. Kadang aku hanya memandangi gambar dirinya di album yang telah lusuh dimakan usia. Namun lama-lama aku terbiasa, kunikmati saja kerinduan ini, sekalipun ia hadir tak kenal waktu.

Bu, istirahatlah dengan tenang di surgamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi