Ibu.. ibu.. ibu..
Memasuki
gang rumahku, anak-anak kecil masih banyak yang bermain dengan teman-temannya.
Sementara, sepi menyambut kedatanganku di rumah mungil ini. Orang-orang rumah pergi
dengan urusan masing-masing. Aku duduk dulu di teras macam biasanya saat pulang
kerja, sambil menghela nafas dan menyulut sebatang rokok. Langit cerah dengan
dipenuhi bintang-bintang yang menghiasinya, daun-daun bergerak pelan karena ditiup
angin. Aku masuk rumah ketika tembakau sudah habis disulut api.
Di
saat yang tiba-tiba, saat merebahkan badan di atas kasur lantai yang tipis, aku
teringat ibuku. Sesekali aku membayangkan sosok yang dulu akrab dengan
cerewetnya itu, yang menyayangi, yang merawat, yang perhatian, dan yang kini telah
pergi. Rasanya makin lama rumah ini makin sunyi. Menjalani hari-hari tanpa
seorang ibu sebenarnya sudah akrab denganku selama satu dekade ini, namun di
saat-saat tertentu rindu itu pasti muncul sekalipun tidak diinginkan. Macam
kali ini, saat badan sudah lelah bekerja seharian, rindu malah hadir, rasanya
begitu merajam batin, sebab rindu ini tak pernah bisa terbalas. Aku hanya bisa
berjumpa dengannya lewat mimpi, atau dengan lamunan imaji. Kadang aku hanya memandangi
gambar dirinya di album yang telah lusuh dimakan usia. Namun lama-lama aku
terbiasa, kunikmati saja kerinduan ini, sekalipun ia hadir tak kenal waktu.
Bu,
istirahatlah dengan tenang di surgamu.
Komentar
Posting Komentar