Romansa di laga pembuka

Persiapan dilakukan dalam waktu yang serba mepet. Noel mengambil cuti hari itu, sementara Anna ijin tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Manajer perusahaan sebenarnya tahu kalau mereka berdua sudah ada janji, sebab itu bukan hal yang pertama atau kedua kalinya, namun itu yang ke sekian kali.

Anna menunggu di depan teras rumah, Noel melaju dengan cepat-cepat menuju ke sana. Dengan atribut lengkap, mereka berdua bergegas datang ke pertandingan pembuka yang digelar di kandang sendiri.

Orang-orang sudah berjubel di satu tempat, Anna tertegun sebab baru pertama kali ia diajak ke tempat macam itu. Noel menjabat tangan kawan-kawannya satu per satu dan juga memperkenalkan Anna. Kawan-kawannya menyambut dengan hangat seperti sudah akrab dengannya.

“Kamu mau ikut corteo ?” Tanya Noel pada Anna.

“Aku ikut kamu, mas” jawab Anna dengan senyum barangkali ia tak tahu apa itu corteo.

Dering ponsel Anna terdengar berulang kali, manajer mencoba menghubunginya. Dengan cepat Noel berkata pada Anna; “matikan ponselmu”.
Tentu dengan cepat Anna mematikan ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam tas. Tangannya segera digandeng oleh tangan Noel. Mereka berjalan pelan di antara kerumun barisan serba hitam yang hendak mendukung klub kebanggaannya itu. Sesekali Anna mencoba menirukan nyanyian-nyanyian khas pendukung sepak bola, dengan terbata-bata, dan kadang berakhir dengan tawa sebab belum hafal betul-betul.

Mereka terpisah di pintu pengecekan, Anna lebih dulu masuk, sementara Noel masih berjibaku dengan kerumun orang yang mengantre untuk dicek, sesekali ia mengumpat pada petugas keamanan yang tak cepat-cepat melakukan pengecekan.

Anna berjalan naik melewati anak tangga dan lorong-lorong, sembari tolah toleh mencari Noel. Beberapa saat kemudian Noel masuk lewat pintu sepuluh, dan segera menggandeng tangan Anna. “Aku di sini” katanya dengan gopoh setelah mencari-cari. Mereka berdua segera berdiri di semen berundak, pada barisan-barisan itu. Bas drum mulai dipukul perlahan-lahan. Anna tertegun melihat ribuan pasang mata, untuk kali pertamanya ia datang di stadion, matanya menjelajah ke setiap sudut-sudutnya. Sementara Noel menjelaskan apa saja sambil menunjuk tempat-tempat yang belum dikenal oleh Anna.

Sampai laga dibuka, mata mereka terkunci pada satu hal, yaitu pertandingan. Kadang juga Noel melirik ke wajah Anna yang memerah, kadang pasi, namun selalu tersenyum memandang balik. Kadang juga Noel menggerutu saat ada peluang yang gagal jadi gol, saat wasit tak meniup peluit pertanda pelanggaran saat pemainnya dijatuhkan oleh lawan.

Menit memasuki paripurna, gol belum juga pecah. Raut getir terlihat dari wajah Noel, sementara Anna memerah wajahnya, terdiam lesu di sudut tribune, kadang-kadang ia sandarkan kepalanya di pundak Noel. Seisi tribune kadang terdiam sejenak sebab pertandingan berjalan begitu membosankan. Sebatang demi sebatang rokok disulut, satu lagi barangkali akan terjadi gol.

“Mainnya jelek” ucap Noel pada Anna yang menatap ke arah lapangan hijau.

Anna mengangguk barangkali ia tak paham betul-betul.

“Kamu bosan ?” tanya Noel lagi.
Anna hanya menggelengkan kepala, yang sebenarnya ia bosan.

Umpan-umpan silang terjadi di menit-menit akhir, serangan dari sisi kanan berhasil mengelabuhi lawan. Umpan lambung yang berhasil diserobot dengan sundulan berhasil mengubah angka. Gol tunggal untuk tuan rumah tentu saja diarak dengan sorak-sorai pendukungnya. Noel berjingkrak kegirangan, Anna tersenyum lepas. Skor 1-0 bertahan sampai akhir pertandingan. Kemenangan diraih tim kebanggaannya di laga pembuka.

Orang-orang mulai bergegas keluar saat lampu stadion mulai redup dan satu per satu mulai mati. Nyanyian-nyanyian syukur terdengar riuh, inilah sepak bola yang benar-benar dirayakan. Rasa lelah terbayar dengan kemenangan, raut wajah yang sayu tak begitu terlihat sebab masih terselip senyum tipis, dinginnya angin malam terganti dengan rangkulan kawan dan kolega yang selalu hangat.

Noel dan Anna masih berdiri berjejer dengan tangannya yang erat bergandengan.

“Besok lagi kalau ada laga, kita bolos lagi” begitu ucap Noel berbisik.

“Tentu saja, mas” jawab Anna dengan senyum manis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi