Berkunjung
Hari masih terlampau pagi buatku yang selalu bangun siang. Ponselku berdering berkali-kali, tentu itu sangat mengganggu tidurku yang sedang lelap-lelapnya. Aku terpaksa bangun saat dering yang ke sekian kalinya. Tak diduga, panggilan tak terjawab sebanyak sepuluh kali dari Anna. Mataku terbelalak, dan segera menghubunginya. Dengan terbata-bata aku bicara lewat telepon.
"Ada apa, Ann? " tanyaku lirih.
"Kamu baru bangun, ya?" ia bertanya balik "Hari ini ada acara ngga? "
"Belum ada sih"
"Bisa ku ajak? "
"Ke mana, Ann? "
"Aku mau belanja, bisakah kau temani aku? ".
Tanpa berpikir panjang, ku iyakan saja ajakan itu.
Aku segera beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Ku kenakan sepatu baruku dan berdandan apa adanya. Ponsel ku berdering lagi, Anna kembali menelepon.
"Kamu ku jemput saja, ya"
"Oke, Ann. Ku kirimi alamat rumahku"
"Oke. Aku menuju ke sana" ucapnya mengakhiri panggilan.
Beberapa menit berselang Anna tiba dengan Vespa maticnya. Dan aku sudah bersiap di teras rumah.
"Mau jalan sekarang?" tanyaku.
"Iya. Ayo" jawabnya nampak buru-buru.
Aku duduk di depan mengendarai motor, dan Anna di jok belakang sambil membuka ponsel. Sesekali ia menunjukkan catatan belanjanya padaku yang membagi fokus ke depan dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Ia mengajakku pergi ke sebuah Mall yang berada di tengah kota Solo. Setelah membeli beberapa kebutuhan bulanan, Anna mengajakku masuk ke toko pakaian. Ia melihat-lihat dan memilih-milih baju yang digantung di hanger. Sesekali ia mencobanya.
"Ini bagus ngga?" tanyanya padaku sambil memperlihatkan baju yang ia coba.
"Bagus kok" jawabku sambil senyum.
"Kalau yang ini?" tanyanya lagi sambil memperlihatkan baju yang lain yang ia coba.
"Bagus juga"
"Yang tadi bagus, yang ini juga bagus".
Tentu saja aku kebingungan barangkali baru kali pertamaku diajak seorang perempuan ke toko pakaian dan disuruh menilai tentang pakaian yang dicoba dikenakannya. Anna tampak cemberut dan rupanya ia tak puas dengan jawabanku.
" Maaf, Ann" kataku sambil menunduk.
"Maaf untuk apa? " tanyanya tampak judes.
Ia melanjutkan memilih dan diambil lah dua baju. Ia segera membayar baju itu di kasir dan mengajakku pergi.
"Mau ke mana lagi? " tanyaku padanya.
"Ke rumahku" jawabnya dengan raut wajah yang masih cemberut.
"Senyum dong, biar tambah cantik" ucapku menggoda sekaligus menghibur.
"Hmmm".
Aku mengendarai motor dengan pelan dan hati-hati. Sesekali ia memukul pundakku saat aku mendadak menekan rem. Sesekali juga ia berpegang lebih erat saat kecepatan motor ku tambah lajunya.
"Ini belok mana, Ann? "
"Kanan" jawabnya pendek.
"Lalu? " tanyaku lagi.
"Sudah ikuti aja jalannya, nanti kuberi aba-aba".
Lagi-lagi aku tak sengaja menekan rem dan tentu saja tubuhnya menempel ke tubuhku.
"Kamu jangan cari kesempatan, ya".
" Maafkan aku, Anna"
"Dasar pembual" ucapnya agak marah. "Nanti gang selanjutnya belok kanan".
" Baik, nona" jawabku sambil tersenyum.
Rumah Anna berada beberapa meter di depan, dan setelah sampai, ia segera membuka pagar depan dan motornya kubawa masuk. Rumahnya sepi, tenang, bangunan klasik yang jarang dijumpai di masa-masa sekarang, terlebih lagi di kota. Tumbuhan kecil dan bunga-bunga tertata rapi di pelataran rumah. Terasnya tak begitu luas, diisi dua kursi pendek dan satu kursi panjang dan satu meja dengan asbak di atasnya.
Aku dipersilakan masuk setelah ia membuka pintu. Hari itu rumahnya sepi, nampaknya hanya aku dan Anna saja yang berada di dalamnya.
Di ruang tamu ada satu meja dengan vas bunga di atasnya, dan empat kursi mengelilingi meja itu. Aku dipersilahkan masuk dan disuruh duduk di sofa ruang tengah. Anna pamit hendak ganti baju dulu. Mataku memandangi seisi ruang tengah. Ada televisi, lemari kaca dengan hiasan pernak-pernik di dalamnya, dan pilar-pilar yang masih kokoh menyangga bangunan rumah, ada juga dua jendela kayu di sisi. Sungguh klasik rumah ini.
"Noel, apakah kau masih di situ? " ucap Anna dari kamar.
"Aku di sini, Ann" jawabku.
Anna keluar dari kamar dan segera duduk di sebelahku. Dan tiba-tiba saja ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku terkejut dan bingung. Ku usap saja kepalanya, pelan.
"Rumahku sepi" katanya tiba-tiba
"Memangnya pada ke mana, Ann?" tanyaku.
"Bapakku ada tugas di luar kota, ia mengajak ibuku juga"
"Kok kamu ngga ikut? "
"Sebenarnya aku diajak, tapi aku ngga mau"
"Tapi kan di sini kamu justru sendirian ngga ada teman"
"Kan ada kamu, mas" jawabnya sambil melirik ke arahku.
Ku kecup saja bibirnya yang tipis itu, sekali. Dan ia membalas. Kami berciuman barangkali sebentar. Ia terdiam, dan tersenyum. Kukira ia akan marah, namun ternyata tidak.
"Kamu mau minum apa?" tanya Anna.
"Air putih saja"
Diambilkan segelas air putih dan diberikan padaku. Lalu, ia mengajak ku pergi ke ruang belakang, di sebelah kanan ada pintu tak terkunci, dan aku diajak masuk ke sana. Rupanya itu adalah ruang belajarnya, bukunya cukup banyak, hanya saja tak ku temukan novel Pram di seluruh rak buku.
"Bukumu banyak, Ann" kataku sambil melihat seluruh isi ruangan itu.
"Tentu, kamu menyukainya? "
"Tentu saja" jawabku.
"Kamu boleh pinjam yang kamu suka"
"Aku lihat-lihat dulu, ya".
Setelah melihat-lihat dan sesekali ku baca sedikit buku-buku yang ada di rak, Anna pamit hendak ke kamar.
" Kamu nikmati waktumu di sini, ya. Aku ngantuk" ucapnya sambil menguap.
"Memangnya ngga masalah, Ann? " tanyaku agak heran.
"Ngga papa kok. Tenang saja, tak ada orang yang berkunjung kemari". " Kalau mau tidur, di belakang itu ada kamar kosong" katanya sambil menunjuk pintu seberang ruangan. Aku mengangguk.
Anna meninggalkanku sendirian di dalam ruangan kecil itu. Dan setelah beberapa jam, aku ketiduran di kursi dengan buku yang baru setengah ku baca.
Komentar
Posting Komentar