Obrolan pagi dengan bapak

Pagi tiba lebih awal buatku yang tidak tidur semalam. Menyeduh teh, ditemani cemilan-cemilan seadanya, dan gudang garam sisa semalam yang masih beberapa batang.

Obrolan dengan bapak pagi itu lebih intim musabab jarang sekali kami berbincang, sebab sama-sama sibuk juga. Beruntung, masih bisa ngobrol macam ini, dan bersyukur ia masih tetap sehat di usianya yang sudah kepala lima. 

Kami berbincang banyak hal pagi itu, tentang desas-desus warga sebelah, perihal kawan-kawanku semasa sekolah, kawan yang kutemui dewasa ini, hingga perempuan mana yang sedang dekat denganku sekarang. 
Semacam diskusi, atau sebuah interogasi. Aku sendiri sudah terbiasa berbicara apa adanya, tentang apa saja dengan bapakku. 

Sesekali ia mengajakku membahas tentang sepak bola.

"Ngga nonton, Mas?"
"Tadi menang, lho, Mas"
"Mainnya jelek tadi, Mas"
Tentu kalimat-kalimat itu akrab kudengar akhir-akhir ini. 

Aku tahu, bapak sudah berubah, ia yang dulu selalu melarang ku menonton sepak bola, dan aku yang selalu sembunyi-sembunyi tiap kali hendak berangkat ke stadion, semakin ke sini perlahan ia sudah memaklumi, dan aku juga selalu pamit tiap kali hendak berangkat. Namun, akhir-akhir ini ketika jarang nonton, ia justru heran, kenapa ngga pernah nonton. 

Perlu kamu tahu, pak, anakmu sedang bosan, mungkin juga muak dengan sepak bolanya. Bukankah ini yang kau inginkan dulu, ketika aku sedang menggilai sepak bola. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi