Satu hari, ku ceritakan tentang kau
Hari ini, aku menulis dua kali.
Yang pertama, aku menulis tentang kekasihku, Anna, yang akhir-akhir ini gusar kepadaku. Ia gusar tanpa sebab, aku tak tahu. Dan tentu tulisan tentangnya belum hendak ku tulis ulang di sini, baru di buku tulis pemberiannya.
Yang kedua, aku menulis tentang ini;
Ajakan nongkrong datang dari Aziz, kawanku anak Ultras. Sebelumnya, ia mengajakku menikmati sore di depan stadion Sriwedari. Tapi batal, sebab aku ketiduran sore tadi.
Tepat pukul 21.30 ia datang menjemput ku di rumah. Kami segera bergegas, tanpa berpikir lama hendak nongkrong di mana malam itu, dipilihlah Keraton Kasunanan. Kami melewati malam dengan duduk santai tepat di depannya.
Kami memesan dua gelas kopi hitam gelas kecil, dan obrolan pun dimulai begitu saja. Barangkali obrolan kami berdua tak pernah berubah, sepak bola tentu menjadi pembahasan yang utama. Perihal skor akhir pertandingan beberapa waktu lalu, hingga menyorot ke arah tribune penonton, tentang kawan-kawan yang sedang semangat-semangatnya mendukung klub kebanggaan, atau orang yang sedang kendor semangatnya, macam aku.
Aziz juga sempat menanyakan kenapa aku jarang sekali menulis di blogku yang satunya, tentang sepak bola. Ku jawab enteng saja; Mana bisa aku menulis tentangnya, menontonnya saja aku tak pernah. Jawabanku tentu diakhiri tawa kami berdua. Namun aku masih bisa merayakan sepak bola ku sekalipun aku tak pernah hadir di pertandingan. Macam hari-hari lalu aku sempat membikin minuman yang kuberi nama Bianco Rosso. Sebuah kebanggaan tersendiri buatku yang selalu bisa merayakan sepak bola dengan cara apa pun, macam jargon yang ku kutip di blogku yang satunya, Sepak bola tak pernah berhenti di 90 menit saja. Aziz hanya mengangguk, tersenyum.
Obrolan kami tidak melulu juga tentang sepak bola. Kami juga berbincang perihal pekerjaan, dan segala tuntutan-tuntutannya, masalah-masalah yang datang melulu saban hari, kisah asmara, dan apa saja. Aku juga banyak menceritakan tentang Anna pada Aziz. Ia mendengarkan betul-betul ceritaku tentangnya.
Suasana malam itu dingin, dan sunyi. Jika kalian akrab dengan kebisingan knalpot tiap kali nongkrong di pinggiran kota Solo, coba sesekali nongkrong di depan keraton sini. Akan kau dapati sebuah ketenangan yang menentramkan. Terdengar juga lirih suara gamelan dari dalam keraton yang membikin suasana makin intim.
Sesekali tercium harum dupa yang dibakar oleh abdi delem di sekitar keraton.
Tepat ketika pukul 00.00, lonceng berbunyi. Aku kaget di bunyi pertamanya, dan ku nikmati setelahnya. Suara kami yang pelan terdengar makin riuh saat sekitaran kami mulai diam, sepi, sunyi.
Kopi hitam di gelas mulai dingin, kami memesan lagi dua gelas teh hangat. Dan menyulut lagi sebatang rokok yang ke sekian kalinya.
Saat jam menunjukkan pukul 02.00, Aziz mengajak bergegas pulang. Kami menyusuri jalanan kota pelan-pelan, dingin terasa lebih menusuk menembus jaket yang sudah apek terkena keringat dan debu jalanan. Jalanan kota sudah sepi, hanya sesekali kami jumpai pedagang-pedagang berangkat ke pasar. Aziz mengantarkan ku sampai di depan rumah dan segera pamit pulang.
Namun, ada satu hal yang lupa tadi. Jadah goreng yang ku makan di angkringan tadi belum ku bayar.
Hahahaha
Komentar
Posting Komentar