Sekali lagi, inilah cinta

Di satu hari yang begitu penat, aku datang ke rumah kawanku, Alexander. Ia sudah lama tak ku jumpai barangkali di tongkrongan, atau di gereja akhir pekan pada umumnya. Ia kaget saat aku datang sebab sebelumnya aku tak memberi kabar jika hendak berkunjung. 

Hari itu ia sedang duduk santai di teras rumahnya sembari menikmati rokok dan kopi. Pertemuan kami akrab dengan senyum dan tawa tanpa sekat basa-basi. 

"Hei, dari mana, kok tiba-tiba datang? " ucap Alexander kepadaku sambil menepuk pundak. 
"Dari rumah, ingin berkunjung ke sini saja, lama kita tak bersuara" jawabku sambil menjabat tangan. 
"Sehat, kan? " tanyaku. 
"Puji Tuhan, sehat". "Kamu mau minum apa?, teh atau kopi? ".
" Seadanya aja, lex" jawabku sambil segera duduk di sampingnya. 

Ia masuk ke dalam rumah dan segera menyeduh kopi hitam untukku. Sementara aku duduk santai sambil menikmati indahnya malam dengan padi yang sudah menguning siap panen yang berada di sawah depan rumah Alexander. 

Beberapa menit berselang ia keluar sambil membawa secangkir kopi panas untukku. Dan cemilan-cemilan seadanya.
"Kamu ngga kabar-kabar dulu sih kalau mau ke sini, misal tadi ngasih kabar, kan bisa ku siapkan makanan yang banyak" katanya sambil menaruh toples-toples di atas meja. "Silakan dimakan" katanya lanjut. 
"Terima kasih, lex" jawabku sambil menyeruput kopi. 
Obrolan berjalan begitu saja, barangkali bercerita apa saja yang kita lewati semenjak lama tak bertemu.
Sebenarnya, kedatanganku di sini hendak menceritakan kalau aku sedang menyukai seorang gadis, yaitu Anna, gadis yang kukenal di diskusi kampus beberapa waktu lalu. 
"Apakah kamu hendak mendekati wanita lagi, lex? " tanyaku membuka obrolan yang hendak ku jadikan pokok pembahasan. 
"Kenapa emang?" jawabnya agak ketus. 
Aku tahu, ia mungkin tersinggung sebab sudah lama ia tak menjalani hubungan percintaan semenjak berpisah dengan kekasihnya dua tahun lalu. 
"Sepertinya aku sedang jatuh cinta pada seseorang" ucapku pada Alexander. 
"Kok sepertinya? ".
" Aku ngga tahu, lex. Tapi yang pasti aku sedang menyukai seseorang".
"Hahaha. Pembual macam kau bisa juga jatuh cinta" ucapnya dengan penuh gurau dan heran.
"Memang sejak kapan kamu jatuh cinta pada orang itu?".
" Aku tidak tahu sejak kapan cinta itu tumbuh, tapi aku merasakan hal itu, aku selalu kepikiran tiap kali sedang berbalas pesan".
"Memangnya siapa orang yang kau sukai?, siapa namanya?" tanyanya mulai penasaran. "Kapan bisa kau kenalkan padaku?" ucapnya lanjut. 
"Ia adalah Anna, gadis bermata cokelat yang kukenal di kampus beberapa waktu lalu".
" Gadis mana dia? Cina, Jawa, Arab atau mana? " tanya Alex makin penasaran. 
"Satu waktu kamu akan ku kenalkan padanya, lex".
" Lalu, kedatanganmu di sini hendak apa, Noel. Pembual ulung yang selalu patah karena cinta".
Aku terdiam sejenak, dan kembali bercerita.
"Aku mau minta saran padamu, bagaimana seharusnya jalan yang mesti ku tempuh? ".
" Kamu sebenarnya tak kurang akal, kawanku. Hanya saja kau terlalu takut, kan. Takut patah untuk ke sekian kalinya".
Aku mengangguk, dan terdiam lagi beberapa detik. 

Angin sepoi-sepoi berhembus, padi-padi itu bergoyang sesuai arah angin. Malam semakin larut, kopi nian dingin dan rokok perlahan mulai habis. 
"Menurutmu, apakah terlalu cepat aku jatuh cinta pada seseorang yang baru beberapa waktu ku kenal?" tanyaku padanya. 
"Itu wajar sih" jawabnya singkat. 
"Tapi, dia sendiri bagaimana?". Apakah sikapnya juga baik terhadapmu?".
" Buatku baik sih"
"Lalu?"
"Dia besok wisuda"
"Sudah kau siapkan hadiah untuknya?" tanya Alex padaku seperti hendak menggurui. 
"Belum" jawabku ragu-ragu. 
"Yahh. Gimana sih, harusnya hari ini tadi kamu siapkan hadiah, dan kamu berikan padanya besok". " Gimana sih, pembual-pembual" ucapnya padaku seperti menyalahkan. 
"Ya sudah, besok ku belikan hadiah untuknya, dan kuberikan saat acaranya juga" ucapku supaya Alexander segera diam menggurui. 
Sebenarnya aku tak mempermasalahkan sikapnya yang selalu menggurui aku. Toh, dia juga lebih tua jauh dariku, tentu perihal pengalaman, ia lebih kenyang. 

Beberapa saat kemudian aku pamit pulang dan merencanakan untuk hari besok. 
"Semoga sukses, pembual" ucap Alexander padaku sambil tertawa lebar. 

Sesampainya di rumah, aku segera masuk kamar dan mempertimbangkan sebuah langkah yang hendak ku tempuh hari besok. Sudah kupikir matang-matang perihal pilihan dan konsekuensinya. Macam kata Pram; seorang terpelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Jangan sampai pembual ulung yang terpelajar gagal dalam percintaan lagi, kataku angkuh dalam hati. 

Aku tak sempat tidur malam itu, hingga pagi tiba, aku segera bersiap-siap. Selepas mandi, segera ku kenakan celana jeans ku, dengan kemeja hitam favoritku dan jaket camo yang sudah akrab berpadu dengan sepatu Dr Martens. Tak lupa juga ku semprot parfum blue emotion ke banyak bagian. Pomade tentu saja penting supaya rambut tak acak-acakan. Aku segera bergegas dengan motor Astrea ku. Segera ku datangi toko sepatu ternama di kota Solo, dan kupilih ukuran yang pas untuk Anna. Setelah lama memilih, segera kuambil yang menurutku cocok untuknya. Sepatu Vans Autenthic warna hitam kuambil dan ku bayar cash di kasir. Barangkali harganya tak begitu mahal, tapi ini sesuatu yang indah dari seorang pembual untuk perempuan yang disukai. 

Notifikasi muncul di layar ponselku. 
"Kamu datang, kan?" tanya Anna lewat pesan singkat. 
"Tentu saja, nona" jawabku dengan penuh semangat. 

"Ayo, sebentar lagi. Sebentar lagi kau akan jadi milikku, wahai nona cantik" kataku menggebu dalam hati. 

Astrea ku berjalan pelan-pelan, sepanjang perjalanan menuju gedung wisuda, aku tersenyum macam kegirangan. Sesampainya di sana, ternyata acara sudah selesai. Ku lihat Anna sedang berfoto mengabadikan momen dengan kawan-kawannya. Ia segera melihat ke arahku dengan cepat. Dengan kedua bola matanya yang indah, ia pandangi aku, aku hanya tersenyum malu-malu. 
"Noel, ayo ke sini" ucapnya agak keras dengan melambaikan tangannya. Aku berjalan sejengkal demi sejengkal ke tempatnya. 
"Maaf terlambat. Ini buat kamu. Selamat, ya" ucapku sambil mengulurkan tangan. Ia justru memelukku sambil mengatakan terima kasih. Tentu saja aku kaget bukan main. Setelah agak lama, ia lepaskan pelukannya dan mengajakku berfoto. 

Selepas acara, aku pamit pulang. Anna tersenyum dengan pipi agak memerah. Lagi-lagi ia ucapkan Terima kasih padaku. 

Aku bergegas pulang, tak lupa ku kabari Alexander, bahwa aksi pertama sudah beres kulakukan. Nampaknya ia bangga padaku. "Semoga selalu beruntung" ucapnya lewat pesan singkat. 
Sesampainya di rumah, aku langsung tertidur pulas. Bangun sore dan melakukan aktivitas macam biasanya; membaca novel, menulis, dan hari itu mulai ku tulis tentangnya; Anna. 

Ponselku berdering tiba-tiba saat aku sedang menatap halaman Microsoft Word di layar laptop. Panggilan masuk dari Anna. Aku segera mengangkat panggilan. Ia mengucap salam, dan lagi-lagi berterima kasih padaku. Satu hal yang istimewa di hari bahagianya, katanya dalam panggilan suara. 
"Pas, atau longgar, atau kebesaran?" tanyaku tentang sepatu itu. 
"Pas" jawabnya singkat. 
Ia menanyakan aku sedang apa, dan dari panggilan suara beralih ke panggilan video. Ia pandangi aku yang sedang mengetik.
"Kamu sedang menulis apa, mas?" tanya Anna. 
"Boleh ku tulis tentang mu, ann?" tanyaku balik. 
"Iya, boleh"
"Nanti ku kirim kalau sudah jadi".

Anna pamit mengakhiri panggilan setelah jam menunjukkan pukul 17.00 sore. Sementara aku masih sibuk menuliskan tentangnya. Sesekali aku berhenti di spasi-spasi tertentu. Sesekali juga aku teringat wajahnya yang cantik nan anggun. Bola matanya yang cokelat, pipinya yang memerah tiap kali tersenyum. Tentu hanya lelaki bodoh yang tak menyukainya. Dan jika ada lelaki yang menyukainya, aku, Noel, siap bersaing dan aku yakin aku akan menang. 

Anna, Ti Amo. 
Per Sempre. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi