Sepak bola dan pertemanan

Hari itu lebih kemrungsung macam hari biasanya. Jam pun berjalan lebih cepat rasanya. Dwiky mengajakku mengantarkan pesanan kaos yang diorder seorang kawan katanya. Kami bergegas menuju ke tempat yang sudah disepakati, di angkringan depan RS Kustati, Solo. Aku dan Dwiky datang lebih dulu daripada kawannya yang memesan kaos.
Kami memesan dua gelas teh dan berbincang-bincang santai macam biasanya. Kacang rebus, tempe mendoan, dan rokok ketengan menjadi kawan yang lain antara kami. 

Jalanan kota teramat ramai malam itu. Lampu-lampu yang remang cukup menyinari temaram jalan. Knalpot berisik tentu menjadi santapan empuk yang selalu diarak umpatan setelahnya. 
Beberapa menit berselang, seorang pemesan kaos itu tiba. Dwiky menjabat tangannya dan memperkenalkannya padaku. Aku menyodorkan tangan hendak menjabat. 
"Ronald, mas" ucapnya sambil menjulurkan tangan. Aku juga memperkenalkan namaku dan memberi senyum ramah. 
Dengan tracktop Adidas dan celana Jeans, Ronald duduk di depanku, di sebelah Dwiky. 
Perbincangan kami bertiga tentu tak luput dengan sepak bola. Kami bertiga juga sama-sama menyukai klub sepak bola kota Solo. 

Ronald pamit pergi lebih dulu, sebab ia segera berangkat ke tempat KKN malam itu juga. Dan disusul Aku dan Dwiky yang juga bergegas pulang setelah itu. 

Beberapa hari berselang, saat aku masih berada di rumah, panggilan video masuk, dari Bima, kawanku dari Wonogiri. Ia menanyakan aku sedang di mana. Hari itu ia duduk santai di depan stadion Pringgondani selepas laga Persiwi. Dalam panggilan kulihat Ronald duduk di sebelah Bima, ndelalah  Ronald mengenakan tracktop yang sama dengan yang ia kenakan saat kami berjumpa beberapa waktu lalu. 
"Itu Ronald, kan, gus? " tanyaku pada Bima. 
"Lho, kamu kenal, ya?"
"Sempat ketemu beberapa waktu lalu sama Dwiky" kataku menjelaskan. 
Layar ponsel dihadapkan ke arah Ronald. Nampaknya ia masih mengingat-ingat siapa aku. 
"Yang sama Dwiky beberapa waktu lalu, mas" kataku mencoba mengingatkan. Dan Ronald kemudian ingat. Kami tertawa di panggilan video. "Dunia memang sempit" kataku. 

Sejak saat itu, aku mulai akrab dengan Ronald. Kami saling bertukar nomor WhatsApp. 
Dan pada waktu malam yang larut itu, kami bertemu untuk yang pertama kali. Lewat pukul 00.00 kami nongkrong di angkringan samping kantor OJK, seberang stadion Sriwedari. Malam itu kami berbincang santai, agak canggung juga rasanya. Beruntung sepak bola menjadi media yang selalu menjadi pemecah kebuntuan tiap kali minim topik perbincangan. 
Perihal sepak bola, kami memiliki sudut pandang yang berbeda. Ronald yang menikmati sepak bola di sisi lapangan, sementara aku yang aktif di belakang gawang. Dan buatku, itu menjadi hal yang menarik.
"Kenapa ngga nonton di kurva, mas?" tanyaku dengan nada yang agak becanda. 
"Ngga terbiasa, mas. Toh, aku menyukai sepak bola Inggris yang akrab dengan penonton yang menikmati pertandingan dari sisi lapangan" katanya menjelaskan. 
"Aku juga suka sepak bola Inggris, mas". "Aku suka Liverpool " kataku lanjut. 
"Aku MU".
Kami sama-sama tertawa terbahak-bahak sebab kedua klub itu kental rivalitasnya. 
Kami juga ngobrol tentang sepak bola di Inggris sana, perihal rivalitas suporter, hingga ke persaingan perdagangan antar dermaga, dan mencoba mencari apakah ada persamaannya dengan sepak bola di Indonesia. 

Ku tengok jam tanganku menunjukkan pukul 03.00. Kami bergegas pulang. Berpisah di persimpangan jalan, ia belok kanan, aku lurus. Pulang ke rumah masing-masing. 

Hari demi hari berlalu, kami pun nian akrab. Sesekali kami bertukar tulisan tentang sepak bola. Aku merasa beruntung, ia bisa menjadi pemantik untuk menulis lebih lagi. Tulisanku dan tulisannya selalu ku muat di blogku yang bersisi tulisan tentang sepak bola. 

Seringkali juga kami melewati malam bersama, entah dengan sepeda motor mengelilingi kota Solo, atau duduk santai di depan rumahku, atau rumahnya. 

Pertemanan kami justru lebih akrab ketimbang Ronald dan Dwiky. Obrolan kami pun makin ke sini tidak melulu tentang sepak bola. Sering juga kami bercerita tentang hidup, dan segala masalah-masalahnya. 

Namun, ada satu hal yang belum tercapai hingga kini. Aku diajak nonton pertandingan sepak bola dari sisi lapangan dan bergantian Ronald yang nonton di belakang gawang di laga setelahnya. Tantangan itu belum sempat kamu lakukan sebab aku sendiri sedang menepi dari sepak bola. Sementara Ronald berangkat ke pertandingan jika ada waktu luang saja, sakmadyone.

Menjelang semester akhir, Ronald mulai mengerjakan tugas-tugasnya. Tak jarang ku temani ia, saat mencari referensi di toko buku ternama, hingga blusukan di kios-kios buku kecil di sudut kota Solo. Ia juga meminjam bukuku, pun aku yang juga meminjam bukunya, yang aku tak punya.

Suatu waktu aku berkata padanya;
"Kamu adalah kawan ku".
"Aku antitesis mu" jawabnya enteng. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi