Jumpa lagi, Ann.
Jalanan kota Solo benar-benar padat merayap hari itu. Malam akhir pekan sebabnya. Tapi jika mengingat malam akhir pekan yang sudah-sudah juga tidak begini macam macetnya. Sebab apa, apa karena banyak acara yang digelar, atau sedang tanggal muda, tidak juga sepertinya.
Sedang sepeda motor bututku menyelinap di antara kendaraan-kendaraan lain yang memenuhi jalanan. Jalan Slamet Riyadi benar-benar penuh sesak. Gerutu, umpatan-umpatan lirih sesekali keluar dari mulut, terlebih lagi belum sempat cuci muka selepas kerja tadi. Namun ada satu hal yang menjadi alasan untuk tetap teguh menempuh kerumunan orang-orang; bertemu dengan Anna.
Sebab sudah ke sekian kalinya aku tidak bisa menemuinya di hari-hari lalu, tentu ada alasannya juga. Dan hari itu aku bertekad untuk menemuinya, setelah sebelumnya ia mengirim pesan singkat. Dan disepakatilah bertemu di sebuah coffeeshop yang berada di sepanjang jalan Slamet Riyadi.
Aku tiba lebih dulu di sana, dan segera memesan Americano ice dengan irisan lemon. Minuman yang akrab denganku sejak dua tahun lalu. Menyegarkan memang. Aku duduk di luar, tepat di pinggir jalur lambat jalanan kota. Orang-orang berjalan lalu lalang, berjejer, beriringan. Motor-motor tertata rapi di pinggir jalan. Juru parkir sibuk menata motor dan meniup peluit.
Beberapa menit berselang pesanan ku datang. Sembari menunggu Anna tiba, ku seruput kopi dan ku sulut sebatang rokok. Bukan gudang garam, namun sampoerna a mild. Yang kubeli kemarin lusa. Setelah sepuluh menit Anna tak kunjung tiba. Menunggu sungguh membosankan, memang. Terlebih aku tidak membawa buku yang bisa saja ku baca sambil menunggu. Namun tak apalah. Toh juga rindu padanya.
Anna tiba setelah dua batang sampoerna a mild habis.
"Menunggu lama, ya, mas? " tanyanya sewaktu tiba. Kujawab singkat "Ngga juga".
Dan ia memesan minum, bukan kopi yang ia pesan hari itu, melainkan leci tea. Aku tidak bertanya kenapa ia tidak memesan kopi hari itu. Ia menyodorkan selembar kertas tugas pekerjaannya, dan kubantu mengerjakan. Hening akrab dengan kami berdua. Sesekali ia menyuruhku bercerita, namun tak kumulai juga.
Sesekali ia bertanya kenapa hari itu rokokku bukan gudang garam. Dan sesekali juga ia minta izin mengambil barang sebatang. Ku iyakan, dan ia menyulutnya. Di antara berbatang-batang Marlboronya.
Coffeeshop sudah hendak tutup, mengakhiri pelayanan di hari itu, tepat pukul 00.00 kami pergi. Kuambil sepeda motorku, dan kami bergegas dengan sepeda motor kami masing-masing. Kuajak ia ke Sriwedari. Dan kami duduk di kursi taman yang berada di depan stadion. Sriwedari tidak begitu ramai macam jalan Slamet Riyadi tadi. Memang sudah seharusnya begitu Sriwedari, setidaknya buatku sendiri.
Obrolan berputar begitu saja. Macam hari-hari biasanya. Aku tetap membual, dan Anna diam mendengarkan. Kutawarkan rokok lagi padanya sebab ia tak kunjung menyulut Marlboro macam biasanya. Macam tadi juga. Ia malu, mungkin. Sesekali kami bicara serius, sesekali juga becanda. Dan malam itu berakhir di Sriwedari, tepat di depan stadionnya. Kami berpisah setelah pukul dua. Anna ke utara, aku ke lawan arahnya.
Sampai jumpa lagi, Ann. Kataku dalam hati.
Komentar
Posting Komentar