Panggilan suara Prof. Seto
Jam pulang kerja tiba lebih cepat dari biasanya, aku segera bergegas pulang dan merencanakan apa yang hendak kulakukan di rumah nanti.
Sesampainya di rumah, pesan singkat masuk dari Prof. Seto, dosenku. Ia mengomentari statusku di whatsapp. Ia mengingatkan kalau diksinya kurang tepat katanya. Aku segera membalasnya dengan cepat namun penuh hati-hati, sebab takut keliru juga.
Setelah satu jawaban kukirimkan, ponselku berdering beberapa kali, panggilan masuk dari dosenku itu. Kuangkat segera. Ia mengucap salam dari balik telepon, dan tanpa basa-basi, tanpa menanyakan bagaimana kabar, sebab sudah pasti sehat, toh bisa angkat telepon. Ia dengan segera membuka perbincangan yang amat serius. Aku tak perlu kaget sebab perbincangan-perbincangan macam itu sering terjadi, seperti dulu di setiap malam hingga menjemput pagi di teras rumahnya.
Ia memulai dengan memberi pertanyaan-pertanyaan yang kadang sebuah jebakan. Tak jarang aku terjebak dan baru tersadar saat setelahnya.
Perihal organisasi, ideologi, politik, sepak bola, sejarah, agama, filsafat, tentang kehidupan, tuntutan-tuntutan pekerjaan, tentang benar dan salah, baik dan buruk menjadi topik obrolan kami. Sesekali aku hanya terdiam seolah mengiyakan, namun ia tak pernah suka rupanya jika aku hanya sepakat dengan apa yang ia katakan.
Segala sesuatu hal baginya harus kafah, perihal ideologi, agama atau sesuatu hal yang lain. Dan kami sepakat, supaya apa, supaya adil sejak dalam pikiran. Macam kata Pram; Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.
Buatku, ia adalah guru yang selalu berguru. Bapak anak satu itu rupanya masih haus akan hal-hal baru. Kami cukup akrab, terlebih kami sama-sama menyukai sepak bola, dan klub yang sama. Dan tak jarang kami sering berangkat menonton pertandingan bersamaan.
Sembari berbincang, tak lupa kami menyulut sebatang rokok kami masing-masing.
“Rokokmu apa, pak ?. Masih Aroma ?” tanyaku.
“Lodji menthol. Aroma sudah ngga ada” katanya.
Pertanyaan-pertanyaan receh sesekali kuucapkan sembari mencairkan obrolan yang berat. Walau seberat apa pun obrolan, aku selalu suka sebenarnya. Berisi.
Di tengah-tengah obrolan aku sempat menanyakan berapa lama ia menyelesaikan membaca tetraloginya Pram. Ia mengatakan bahwa dalam waktu singkat ia kelar. Aku terkejut, sebab novel-novel setebal itu bisa ia baca dalam waktu singkat. Terlebih lagi aku yang saat ini sedang berhenti di Jejak Langkah. Aku juga heran dengan diri sendiri akhir-akhir ini yang enggan sekali membaca novel, entah sebab apa, mungkin terlalu padatnya aktivitas kerja. Mungkin.
Ia adalah pemantik supaya selalu semangat membaca, setidaknya bagiku sendiri.
Hampir satu jam obrolan berputar. Ia pamit hendak membersihkan kamar.
“Sebentar, pak. Satu lagi” kataku menahan supaya ia terus bicara.
“Lain waktu lagi” katanya.
“Sebentar, pak” kataku lagi agak memaksa.
“Besok lagi” ia mengakhiri obrolan dan meninggalkan salam sebelum menutup telepon. Tak lupa juga ia memesan supaya obrolan lewat telepon tadi kutulis.
Dan jadilah ini.
Komentar
Posting Komentar