Penyetan kehidupan, dan obrolan tiap malam

Berkeliling kota Solo naik motor di malam hari menjadi pilihan paling tepat setelah melewati hari yang penat. Sekalipun tuntutan dari atasan tak pernah berhenti, asmara yang sedang kacau, dan isi dompet yang tak pernah penuh, hati terasa lega walau sejenak saat sepasang roda sudah lekat dengan jalanan.

Sembari tolah-toleh kanan kiri, memandang apa saja yang ada di sekitar, bapak-bapak tua yang masih sibuk dengan berdagang hingga larut malam, hingga anak jalanan yang mencoba bertahan hidup di antara gempuran stigma. Pemandangan macam itu bisa kita jadikan tolok ukur, sudah bersyukurkah kita selama ini ?.

Jam menunjukkan pukul 00.00, sepeda motor kupacu agak kencang menuju warung kawanku. Beberapa menit berselang sampailah aku di sana. Terlihat kawanku sedang duduk terpaku dalam lamunan, entah dengan seisi pikiran yang bagaimana. Ia menyambut kedatanganku dengan senyum ramah, dan aku memesan segelas kopi hitam seadanya.

“Dari mana ?” tanyanya membuka percakapan.

“Muter-muter” jawabku singkat.

Ia lagi-lagi tersenyum, sambil menyodorkan gelas berisi kopi yang kupesan.

Obrolan berputar antar kami berdua, sembari menyeruput kopi pelan-pelan, dan membakar sebatang gudang garam ecer. Kami saling menceritakan beban hidup yang nian berat, kesedihan yang lekat, usia yang makin bertambah sedang orang tua belum kita bahagiakan, dan berakhir dengan tawa masing-masing. Hidup yang berat tidak melulu untuk kita ratapi, sesekali kita tertawakan, barangkali itu adalah puncaknya.

Beberapa batang rokok habis terbakar, kepul asapnya terbang ditelan angin malam, kopi nian dingin, dan kupesan segelas lagi.

Sesaat kemudian datang satu kawan lagi, wajahnya tampak lesu, bangun tidur katanya. Ia nimbrung dalam obrolan kami berdua, juga bercerita tentang kesedihan. Orang-orang menyebut hal macam ini adalah adu nasib, namun tak apa, walaupun adu nasib kita tetap saling berteman baik. Terlebih seorang lelaki, boleh saja ia bercerita tentang apa saja dengan kawan-kawannya, walaupun semua memiliki beban hidup namun masih bisa saling menasihati.

Hal semacam itu selalu berulang tiap malam hingga menjelang pagi di warung itu. Tepat rupanya kawanku memberi nama warungnya; Penyetan Kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi