Obrolan malam dengan bapak

 


Malam sebelumnya, aku sempat berbincang dengan Ronald, kawan akrabku, perihal masa depan yang masih entah. Padahal, Ronald sendiri setali tiga uang denganku, di part-part tertentu. Celetukan Ronald semalam bukanlah antitesis macam biasanya, tapi semacam dorongan supaya menyegerakan praksis dari tesis itu sendiri. Sebab tampaknya, tesis tanpa praksis adalah omong kosong belaka, sama halnya dengan iman tanpa perbuatan.

Di malam selanjutnya, hawa dingin lekat setelah hujan deras yang baru saja reda beberapa waktu tadi. Di rumah hanya ada aku dan bapak, tak ada camilan sedikit pun. Hanya ada sebotol air putih dan sebatang gudang garam. Hendak keluar rumah pun enggan sekali, sebab dinginnya malam membikin diri memilih untuk tidak ke mana-mana.

Disulutlah sebatang gudang garam itu, satu batang untuk berdua. Sembari berbincang santai, kadang serius. Malam yang dingin menjadi agak hangat sebab obrolan kami berdua. Obrolan semacam ini jarang sekali terjadi sebelumnya, bahkan hampir tak pernah, terlebih aku sebagai anak laki-laki, yang kadang enggan untuk membuka obrolan dengan seorang bapak. Namun, jika hal semacam itu diterus-teruskan juga tak baik, terlebih orang tua hanya tinggal bapak, maka kumulailah membuka obrolan, sesekali. Mumpung masih ada bapak.

Pertama-tama aku meminta maaf, sebab selama ini tak pernah cerita apa pun. Perihal masalah yang datang saban hari, aku memilih untuk memendam sendiri, mencari solusi sendiri, dan bingung sendiri. Sebab aku tak ingin sebenarnya membebani pikiran bapak.
Kami sudah menjalani bertahun-tahun tanpa seorang ibu di rumah. Tak jarang permasalahan muncul di antara kami berdua, dan kami selalu memilih untuk saling diam, bahkan kadang aku memilih tidak pulang ke rumah.
Kulihat bapak tampaknya berkaca-kaca saat aku berbicara beberapa hal, aku sendiri juga tak bisa menahan air mata. Sangat canggung, sebab baru kali pertamaku berbincang serius macam ini.

Ada satu hal yang begitu tinggal dalam ingatanku, saat Bapak berkata; “Bertanggung jawablah, sebab kamu lelaki. Kelak kau akan menjadi kepala rumah tanggamu sendiri”.

Aku tak menjawab dengan kata apa pun, hanya diam dan mengangguk. Kalimat yang dilontarkan bapak rupanya membikin aku termenung, aku bertanya pada diri sendiri, apakah sejauh ini sudah menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab, terhadap apa pun.

Aku dan bapak sepakat untuk mulai berubah, dan berbenah, toh juga belum terlambat untuk hal itu. Beberapa hal yang sudah lalu, untuk kita jadikan pelajaran ke depannya.

Gudang garam sudah habis disulut api, perbincangan dengan bapak malam itu berakhir, kuseka air mataku. Ternyata perbincanganku dengan bapak malam itu mampu meluapkan seisi hati dan pikiran yang sudah penuh.

“Pak. Terima kasih, ya” ucapku sambil memeluknya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi