Selamat jalan, Jokpin
Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul 10.00 segera membuka ponsel, dan membalas pesan Anna dengan sesegera. Mataku masih mengantuk, dan kepalaku agak pening, sebab baru tidur setelah subuh tadi.
Sembari mengumpulkan nyawa, aku membuka sosial mediaku. Kabar duka datang dari seorang penyair idolaku, Joko Pinurbo. Seketika teringat bukunya yang berjudul Surat Kopi, yang kubeli beberapa tahun lalu, yang sekarang entah di mana. Seingatku dulu dipinjam teman dan tidak ada kabar selanjutnya.
Aku suka menulis puisi, atau sekedar sajak-sajak, tentang apa pun, yang ingin kutulis. Dan Jokpin menjadi referensiku menulis puisi. Walaupun bukunya kalah banyak dengan bukunya Pram di rak bukuku.
Tak jarang juga beberapa kali ia kuceritakan di tongkrongan dengan kawan-kawanku. Dan ada sepenggal kata yang tinggal dalam ingatanku; “Kebahagiaan saya terbuat dari kesedihan yang sudah merdeka”. Entah apa makna sebenarnya yang Jokpin maksud dari kalimat tersebut, namun aku sendiri menafsirkan bahwa kesedihan tidak melulu untuk diratapi, tapi boleh jadi untuk dirayakan, oleh karenanya maka aku terus-terusan menulis, dalam rangka merayakan kesedihan yang selalu menjadi kawan yang akrab.
Jokpin, selamat jalan. Syairmu akan tetap riuh dari dalam kubur. Dan karya-karyamu abadi.
Komentar
Posting Komentar