Celengan rindu, dan doa kita saban hari
Sore sedang cerah-cerahnya di kota Solo. Perjalanan ke arah barat tentu terasa agak terik, sebab mentari belum juga pulang, ia baru perjalanan menuju pulang. Silau, tentu saja. Beruntung ada kacamata hitam di dashboard, yang bisa kuambil dan kupakai. Dagumu bersandar di pundakku macam biasanya, tiap kali kuboncengkan kau selalu begitu, tak pernah berubah, dan kuharap jangan berubah. Melulu lah seperti itu. Dan jangan bosan.
“Kamu tahu lagunya Fiersa Besari ?” Tanyamu tiba-tiba dari jok belakang.
“Lagunya yang mana ? Judulnya ?” Tanyaku balik.
“Yang liriknya begini; aku kesal dengan jarak”
“Yang sering memisahkan kita, hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di WhatsApp”. “Celengan rindu” ucapku sambil melanjutkan sepenggal lirik tadi.
“Nah iya itu. Celengan rindu, ya”.
Kita terus-terusan saling melanjutkan lirik demi lirik lagu tersebut. Dan kuraih tanganmu saat sampai di lirik ingin kuberdiri di sebelahmu, menggenggam erat jari-jarimu.
Sambil kupandangi wajahmu dari spion sebelah kiri. Kamu tersenyum manis, aku juga. Kita sama-sama tahu lagu itu.
Sementara, sepeda motor scoopy berjalan pelan dan kaku, setang motor tampaknya agak bermasalah.
Kuantarkan kau pulang dan aku kembali berangkat kerja, dan kita akan bertemu lagi nanti malam, atau malam-malam selanjutnya, di hari selanjutnya. Dan barangkali celengan rindu milik Fiersa Besari menjadi doa kita saban hari.
Dan tunggulah aku di sana, memecahkan celengan rinduku, berboncengan denganmu mengelilingi kota, menikmati surya perlahan menghilang. Hingga kejamnya waktu menarik paksa kau dari pelukku, lalu kita kembali menabung rasa rindu, saling mengirim doa, sampai nanti sayangku.
Amin.
Komentar
Posting Komentar