Dari Swargi
Kamu datang lebih cepat hari itu. Aku justru menyusul beberapa waktu kemudian. Aku tahu, kamu agak bosan musabab menunggu lama.
Kulihat kamu sudah duduk sambil menatap layar laptop, dan belum memesan apa pun. Kita memesan bareng, berjejer mengantre. Kamu tidak memesan americano ice macam biasanya, sebab puasa katamu, takut asam lambungmu naik.
Kita sama-sama baru pertama kali mampir di kedai ini, tampaknya kamu begitu takjub, dengan suasananya, dengan pelayanannya dan dengan menu-menunya. Kamu bilang kalau moodmu membaik setelah itu. Menjadi hal baru bagimu tatkala menginjakkan kaki di sana untuk yang pertama kali.
Kita berbincang banyak hal malam itu. Sesekali kau selesaikan pekerjaanmu yang belum kelar, barangkali sekedar mengoreksi tugas-tugas siswamu, sesekali kubantu walau sekedar. Sesekali juga kamu mengeluh perihal pekerjaan, kau yang mulai bosan atau bahkan muak dengan pekerjaanmu, dan ingin mencoba hal baru. Namun selalu kuakhiri dengan kata jangan. Maaf jika terlalu mengguruimu.
Jam menunjukkan pukul 22.00, kuajak kau bergegas pulang supaya kamu tidak kena marah dari ibu. Pastikan riuh akhiri malammu milik Perunggu menjadi lagu penutup di pertemuan kita malam itu. Aku menunda kepulangan, dengan dalih selesai satu lagu itu. Dan merekomendasikan supaya lagu itu kau tambahkan di playlistmu. Sebab lagu tersebut macam doa tiap malam, setidaknya buatku.
12/3/24
Komentar
Posting Komentar