Dari Thiago hingga Margareta, dan salam perpisahan

Sejauh yang kuingat, kala itu aku masih duduk di bangku SMP, aku menyaksikan pertandingan sepak bola di layar televisi. Kala itu kesebelasan Manchester United menghadapi Barcelona. Aku tidak ingat skor akhirnya berapa-berapa. Namun ada satu hal yang kuingat betul-betul yang membuatku takjub, adalah pemain nomor punggung 11 dari Barcelona, ia adalah Thiago Alcantara. Pemain yang kala itu masih muda, yang berposisi gelandang itu memamerkan skilnya. Dalam hatiku mengucap; kenapa tidak bermain untuk Liverpool FC, yang notabene klub yang kusukai.

Beberapa tahun berselang, pemain berbangsa Spanyol itu makin matang permainannya. Ia diboyong Bayern Munchen sepaket dengan Pep Guardiola sebagai pelatih. Sesekali aku menonton saat Bayern Munchen bertanding, sebab Thiago. Beberapa kali aku membeli poster bergambar Thiago, dan kutempelkan di tembok kamarku, bersanding dengan poster Steven Gerrard dan skuad Liverpool. Bahkan saking mengidolakannya, terbersit keinginan di kepalaku, kelak jika aku punya anak akan kuberi nama Thiago, entah Thiago Henry, atau yang lain, asal ada Thiagonya. Tak jarang pula hal semacam itu kuceritakan dengan kawan-kawanku, entah di tongkrongan, atau di lain tempat.

Dan tepat di tahun 2020, ia berlabuh ke Liverpool FC, klub yang kusukai sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku begitu tertegun kala itu, walaupun klub yang kusukai bermarkas di tanah Britania nun jauh di sana, yang sampai detik ini pun aku belum bisa menyaksikannya secara langsung di stadionnya.

Aku semakin mengidolakan Thiago, ia bermain cukup baik juga di Liverpool, dan mampu membawa klub menjadi juara di beberapa kompetisi.

Beberapa hari sebelum hari ini, sempat kuceritakan nama Thigao kepada temanku, Margareta. Bahwa nama tersebut adalah nama yang kusukai, dan kuceritakan sebabnya pula. Sembari menyeruput cokelat milkshake dan es moka, Margareta mendengarkan betul-betul ceritaku malam itu.

Dan tepat hari ini, Thiago resmi berpisah dengan Liverpool FC. Menjadi hal yang lumrah dan kerap dialami oleh klub sepak bola profesional, pemain dan pelatih melulu datang dan pergi silih berganti. Namun, lambang di dada kudu lebih besar daripada nama di punggung, seperti kalimat yang menjadi tagline Liverpool FC; You’ll Nener Walk Alone. Yang kutafsirkan; sebesar apa pun nama pemain, ia tidak pernah bisa bermain sendiri tanpa tim.

Aku tak peduli hal semacam ini dianggap terlalu hiperbola. Bagaimana pun, nama Thiago selamanya akan tetap lekat di hidupku, ia abadi di ingatanku, dan di tulisanku ini. Dan Thiago Alcantara lah yang pertama kali kuingat saat mendengar nama Thiago.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi