Kalut
Ia bergegas pulang dengan motor kantor setelah makan malam dengan rekan-rekan. Bergegas menuju rumah dengan sesegera, tanpa mampir nongkrong atau keliling kota lebih dulu. Sebab tubuhnya lelah, atau boleh jadi jiwanya. Di sepanjang perjalanan menuju pulang, tak terasa ia meneteskan air mata, dan menyeka dengan sesegera pula. Pikirannya kacau sebab banyak hal, tuntutan atasan, tuntutan ekonomi, tentang masa depan yang masih misteri, tentang mimpi dan harapan, yang tak jarang patah atau dipatahkan oleh keadaan. Dan cinta, apalagi. Dan dengan sadar ia teringat kalimat yang diucapkan seorang kawan, bahwasanya semua ini hanya perihal dunia. Ealah, mung ndunyo. Dan beruntung, celetukan kawan yang tertinggal dalam ingatan mampu membantu melegakan beratnya pikiran dan mbededege ati.
Sesampai di rumah, ia langsung tergeletak di ruang tamu, membalas pesan kawan-kawannya dengan terbata-bata, dengan jari yang gemetar, atau dengan mulut yang komat-kamit. Tanpa sempat melepas jaket, seragam. Tak sempat pula mencuci muka dan bersih-bersih, apalagi merokok, tak sempat. Tak sempat pula ia membaca buku-bukunya yang sudah kembali, yang sebelumnya dipinjam kawannya. Dan tanpa sadar, dengan seragam dan jaket yang masih melekat di tubuhnya, dan kaki yang masih terbungkus sepatu, ia tertidur lebih cepat dari biasanya.
Komentar
Posting Komentar