Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Lagu Tapak Tilas Kerinduan milik The Cloves And The Tobacco berputar sejak sepeda motorku keluar dari gang rumah. Suaranya terdengar lirih dari headset yang kupasang di telinga. Bergegaslah aku dengan laju sepeda motor yang cenderung pelan, berbarengan dengan awan berarak. Perjalanan menuju pulang ke kampung halaman hari itu agak terik, beruntung masih ada hembus angin yang sedikit menyegarkan.

Ayun langkahku di belantara, beton tinggi menjulang, berpamit pada sudut kota yang akan kutinggalkan.
Tepat setelah sepenggal lirik itu menguing di telingaku, segera kutambah laju sepeda motor. Dan mengucap pamit dalam hati pada orang-orang di kota. 
Tentang Anna, tentang kawan-kawanku di skena Gajah Mada, tentang Margareta, dan semua orang yang kukenal, aku pamit untuk sehari saja menikmati kesendirian di kampung halaman. 

Dari jalanan kota hingga masuk ke kabupaten, memasuki pedesaan yang masih asri. Sembari tengok kanan kiri yang dipenuhi pohon-pohon tinggi nan hijau. Lagu demi lagu berputar, yang sebelumnya sudah kususun di playlist. Tentu saja lagu-lagu The Cloves mendominasi di playlist. Sengaja lagu-lagunya yang ku masukkan paling banyak. Sebab tampaknya lagu-lagunya penuh akan sarat makna, setidaknya buatku. Dengan nada-nada yang khas, dan bait-bait yang indah, hal semacam itu mampu mengisi kesunyian, menemaniku di perjalanan yang kutempuh sendiri. 

Tepat sebelum Asar aku sampai di rumah Pakdhe. Yang menjadi tempatku singgah tiap kali pulang kampung.
Hari itu pekarangan rumah dipenuhi orang-orang sedang kerja bakti membikin Balai Dusun. Hal semacam ini adalah hal yang akrab kita temui di desa-desa, tentang gotong royong tatkala hendak membikin sesuatu, masyarakatnya pada nyumbang; entah tenaga maupun materi. Kerukunan dan kebersamaan sangat dijunjung tinggi. Kepentingan orang banyak berada di atas kepentingan pribadi. Dan itulah yang menjadi tradisi orang-orang yang bertempat tinggal di pedesaan.

Dan kuakhiri sore dengan menyeruput teh hangat, dengan rokok kretek, dan cemilan-cemilan seadanya. Sembari berbincang santai dengan bapak-bapak warga sekitar.

Cakrawala senja memamerkan merah meronanya. Bulan sabit muncul agak malu-malu setelah matahari terbenam. Benar-benar sore yang intim di kampung halaman. Dan seolah menjadi relaksasi di jeda kerja sepekan. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi