Untuk Ronald dan Dohan, diberkatilah kita semua

Di satu malam yang begitu penat selepas kerja, ajakan nongkrong datang dari kawanku, Ronald dan Dohan. Aku mengiyakan dengan catatan harus pulang dulu ke rumah. Dohan sudah tiba di tempat yang sudah disepakati, sementara Ronald akan tiba menjemput di rumahku pukul 23.00 katanya lewat pesan WhatsApp.

Sembari menunggu kedatangannya yang acap kali tak pernah tepat waktu, kurebahkan badan di ruang tengah sembari mendengarkan tausiah dari Mas Sabrang, putra Cak Nun, di kanal Youtube. Ia berbicara banyak tentang menjaga kesehatan hati. Semacam nasihat dari kawan untuk diri sendiri, maka dari itu kubiarkan saja videonya berputar, dengan suara yang mendominasi ruangan yang sepi. Ada satu hal yang kuingat betul dari banyaknya yang diucapkan mas Sabrang, bahwasanya masa lalu hanyalah memori, masa depan hanyalah imajinasi, dan hidup yang sebenarnya adalah hari ini. Dan boleh jadi itu adalah kalimat yang tepat bahwa masa lalu hanya untuk diingat atau dikenang. Dan jangan takut akan masa depan yang masih entah, yang melulu dibayangkan, dan barangkali kita hanya bisa menjalani hidup yang terus berlanjut ini, maka hari ini lah hidup yang sebenarnya, macam kata mas Sabrang.

Menjelang berakhir video tersebut, aku sempat ketiduran sebab Ronald tak kunjung datang, dan terbangun tepat saat ia tiba.

Pukul 23.00 kami berdua bergegas menuju tongkrongan, Dohan sudah menunggu di sana. Singgah sebentar barangkali sekedar menghabiskan segelas minum dan sepiring bakso goreng, kami bertiga bergeser setelah hari sudah berganti. Dibawalah laju sepeda motor ke arah utara, dan berhenti di tepi sungai bengawan. Sepanjang tepi sungai sepi, hanya segelintir orang mengais sampah dan kami bertiga, barangkali kami bertiga adalah orang-orang bingung, dan ingin menepi sejenak dari padatnya pikir di tempat yang sunyi. Tentang Ronald yang sedang bertengkar dengan pasangannya, Dohan yang bingung mencari pekerjaan, serta aku sendiri yang sedang banyak pikiran tentang apa saja. Kami bertiga membual bergantian, boleh jadi aku sendiri yang membual paling sering dan paling banyak. Dan nasihat melulu terlontar dari mulut kami bertiga, sama-sama bingung namun saling menasihati adalah kalimat yang tepat.

Gemerlap lampu kota terlihat indah nun jauh di sana, air yang tenang sesekali tertiup angin malam yang dingin, bulan tampak gagah di angkasa. Buatku, itu adalah malam yang intim.

Malam nian larut, memasuki sepertiganya. Kami sudah kehabisan topik obrolan rupanya, kini kami bertiga mulai bosan, kuajak saja kedua kawanku itu melempar batu ke arah sungai, barangkali mampu menghilangkan kebosanan, dan boleh jadi sebagai pelampiasan. Dengan aturan dadakan, siapa yang mampu melempar paling jauh antara kami bertiga. Lemparan pertama Ronald amat dekat, dan tertawalah kami. Dan begitu selalu berulang bergantian sampai ke sekian kali. Dan benar saja, kami bertiga tampak puas melampiaskan dengan lemparan-lemparan itu.

Menjelang subuh kami bergegas pulang. Aku membayangkan beberapa hal setelah pertemuan, entah sampai kapan kita bisa seperti ini saban hari, atau di hari-hari tertentu, dan kuharap semoga senantiasa kita akrab dengan hal-hal baik.

Kutuliskan ini untuk Ronald dan Dohan, dan kuucapkan terima kasih pula pada kalian berdua. Muchas gracias.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi