Berjumpa di kala purnama
Pukul
16.00 selepas asar timbul keinginanku untuk berkunjung ke rumah Jator, seorang
kawan yang jarang kujumpai akhir-akhir ini. Kuhubungi ia via WhatsApp,
kupastikan ia sudah berada di rumah dan tidak keberatan kusambangi.
Di sore
yang cerah sepeda motorku melaju ke arah matahari terbenam, memang sering kali
menyilaukan. Buruh-buruh pabrik lepas kerja berjubel di sepanjang jalan, deru
mesin kendaraan terdengar riuh, berisik klakson-klakson bersahutan menemani
perjalananku sore itu menuju rumah Jator.
Setibanya
di sana ia menyambut kedatanganku dengan ramah macam biasanya. Ia menyilakanku
masuk, aku pun mengiyakan tanpa sungkan. Ia menawariku minum dan menyodorkan
rokok, dan kami mulai berbincang. Sore itu kami berbincang santai namun serius,
membahas apa saja. Perihal iman, tentang baik dan buruknya suatu ideologi,
hingga tentang bagaimana menyikapi hidup dan tetek bengeknya. Tak jarang pula
perbedaan pendapat terjadi antar kami berdua, dan melulu berakhir saat setelah
kami bersepakat. Perbincangan semacam itu sebenarnya sering kali terjadi tiap
kali kami bertemu dan menjadi satu hal yang selalu kurindukan saat jarang
bertemu macam akhir-akhir ini.
Kumandang
azan maghrib menjadi penutup perbincangan. Jator mengajakku bergegas menuju
masjid yang berada di seberang gang. Selepas Shalat ia mengajakku untuk makan,
kami bergegas menuju warung untuk membeli lauk saja, sebab di rumahnya sudah tersedia
nasi. Kami membeli lauk secukupnya, sederhana saja.
Di
perjalanan menuju rumah setelah beli lauk, kami sama-sama memandangi langit
yang sama, bulan sudah tampak gagah dan terang dalam purnamanya. Sungguh indah
mahakarya Tuhan. MasyaAllah.
Aku
berkata pada Jator bahwa setelah ini hendak kutuliskan tentang ini. Jadi, maka
jadilah.
Komentar
Posting Komentar