Berjumpa di kala purnama

Ada tiga hal yang terjadi saat hari libur pekan ini: melewatkan subuh, lelap dalam tidur seharian dan bangun kesorean. Pukul tiga sore baru benar-benar bangun musabab dibangunkan oleh bapak. Aku masih ingat perihal mimpi yang mampir dalam tidurku tadi. Aku bermimpi dua kali, tentang Akbar yang pulang dari tanah rantau dan berkunjung ke rumah, hingga Pak Rahardjo yang mengajak berbincang santai dan memberi uang. Perihal kedua mimpi tadi tidak begitu kuresapi, walaupun tak pernah kupikirkan kedua orang yang mampir di mimpiku kali itu.

Pukul 16.00 selepas asar timbul keinginanku untuk berkunjung ke rumah Jator, seorang kawan yang jarang kujumpai akhir-akhir ini. Kuhubungi ia via WhatsApp, kupastikan ia sudah berada di rumah dan tidak keberatan kusambangi.

Di sore yang cerah sepeda motorku melaju ke arah matahari terbenam, memang sering kali menyilaukan. Buruh-buruh pabrik lepas kerja berjubel di sepanjang jalan, deru mesin kendaraan terdengar riuh, berisik klakson-klakson bersahutan menemani perjalananku sore itu menuju rumah Jator.

Setibanya di sana ia menyambut kedatanganku dengan ramah macam biasanya. Ia menyilakanku masuk, aku pun mengiyakan tanpa sungkan. Ia menawariku minum dan menyodorkan rokok, dan kami mulai berbincang. Sore itu kami berbincang santai namun serius, membahas apa saja. Perihal iman, tentang baik dan buruknya suatu ideologi, hingga tentang bagaimana menyikapi hidup dan tetek bengeknya. Tak jarang pula perbedaan pendapat terjadi antar kami berdua, dan melulu berakhir saat setelah kami bersepakat. Perbincangan semacam itu sebenarnya sering kali terjadi tiap kali kami bertemu dan menjadi satu hal yang selalu kurindukan saat jarang bertemu macam akhir-akhir ini.

Kumandang azan maghrib menjadi penutup perbincangan. Jator mengajakku bergegas menuju masjid yang berada di seberang gang. Selepas Shalat ia mengajakku untuk makan, kami bergegas menuju warung untuk membeli lauk saja, sebab di rumahnya sudah tersedia nasi. Kami membeli lauk secukupnya, sederhana saja.

Di perjalanan menuju rumah setelah beli lauk, kami sama-sama memandangi langit yang sama, bulan sudah tampak gagah dan terang dalam purnamanya. Sungguh indah mahakarya Tuhan. MasyaAllah.

Aku berkata pada Jator bahwa setelah ini hendak kutuliskan tentang ini. Jadi, maka jadilah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi