Sudah
Perempatan
Ngapeman memisahkanku dengan Ronald dan Dohan di pertemuan. Ia belok kanan
memasuki jalan Slamet Riyadi menuju arah barat, sementara aku melanjutkan
menyusuri jalan Honggowongso ke selatan.
Udara
malam itu tidak terlalu dingin macam hari lalu, mataku sudah agak mengantuk, kurogoh
saku jaketku dan mengambil ponsel untuk melihat jam. Dan kuputuskan untuk
menepi sebelum berhenti di lampu merah pasar kembang. Kucopot helm dan
kukenakan headset, sembari membuka laman Spotify untuk memutar
lagu. Tanpa memilih-milih lagu apa yang hendak kudengarkan untuk menemani
perjalanan menuju pulang, kuputar secara acak saja. Dan lagu Ardhito Pramono
yang berjudul Sudah yang berputar dan kudengarkan. Alunan musik pelan membikin
perjalananku ikut tenang. Kupacu sepeda motorku lebih lambat, sembari menikmati
perjalanan di tengah malam yang sunyi, dengan diiringi lagu Sudah yang membikin
suasana lebih intim.
Dan
barangkali Sudah adalah kredo paling pelik. Sudah seolah oase di tengah gurun
yang bisa kita hampiri untuk melepas dahaga. Sudah boleh jadi sebagai kata
untuk melipur lara bagi diri sendiri. Ngeyem-yem.
Aku
sendiri menyadari betul bahwa orang tak akan pernah bisa melupakan masa yang
sudah lewat, entah hal-hal baik maupun buruk. Entah yang membikin sedih atau
pun senang, orang tak akan lupa dan tak akan pernah bisa lupa dengan hal itu, melainkan
berdamai dengannya, dengan diri sendiri. Walaupun semua perlu proses. Sebab
sejatinya manusia itu berproses, bukan berubah.
Dan
Sudah menjadi akhiran dari segala hal. Serupa amin paling khusyuk, serupa
syukur paling riuh. Sing uwis yo uwis. Sudah.
Komentar
Posting Komentar