Yang telah pergi akan selalu terkenang
Om. Kalau saja aku boleh bercerita padamu, begini ceritanya:
Pada
suatu malam yang amat penat selepas kerja, aku bergegas menuju rumah Ronald. Sesampainya
di sana, ia menyambutku di depan gerbang, dan segera kuparkirkan sepeda motorku
di teras rumahnya.
Setelah
berbincang pendek hendak makan malam di mana, disepakatilah satu tempat, dan dengan segera
kami melaju menuju burjo belakang kampus malam itu.
Kami
sama-sama lapar, sesampainya di burjo kami segera memesan makanan. Ronald memesan
omlet kesukaannya, sementara aku memesan magelangan macam biasanya. Beberapa
menit berselang setelah makanan sudah habis disantap, datanglah seorang kawan,
ia adalah anak Campus Bois, tapi aku malah belum sempat berkenalan dengannya. Kami
bertiga berbincang santai perihal pertandingan tandang beberapa waktu lalu di
Kediri. Di tengah-tengah obrolan, ponselku berdering berulang kali, ada
panggilan masuk dari istrimu, tanteku sendiri. Tanpa mengucap salam terlebih
dahulu, kudengar suaranya terbata-bata dan tak beraturan, sambil menangis pula. Aku
sendiri bingung dan agak panik, tapi kucoba untuk menenangkannya supaya ia bisa
bicara dengan jelas. Pada intinya yang kutangkap dari bicaranya yang panik itu,
Om tiba-tiba sakit, dan dibawa ke klinik. Tanpa berpikir panjang, kupotong
pembicaraan kedua kawanku itu dan segera
kuajak Ronald bergegas pulang.
Sepanjang
perjalanan pikiranku kacau, bercabang-cabang tak karuan, Ronald mencoba
menenangkan. Sesampai di rumah Ronald, aku mengambil sepeda motorku dan segera pamit. Bergegaslah
aku menuju klinik di mana Om dibawa. Sesampainya di klinik, aku bertanya pada
penjaga, namamu tak ada di sana, sudah dirujuk ke rumah sakit, katanya. Aku
bingung, bingung bukan main, hendak ke mana saat itu, menuju ke rumahmu atau
pulang dulu. Kucoba menelepon istrimu, ia mengangkat panggilan dan masih
menangis. Ah, aku semakin bingung. Kuputuskan untuk pulang ke rumah dulu,
memberi kabar pada bapak. Ndelalah, bapak sudah tidur lelap, saat itu
pukul 01.00, hal yang tidak biasanya bapak sudah lelap dalam tidurnya jam segitu.
Kami segera pergi menuju kediamanmu, tetangga-tetanggamu sudah berkerumun
memenuhi gang sempit depan rumahmu. Kudengar istrimu masih tersedu sedan dalam
tangisnya. Satu di antara tetanggamu mengabarkan, bahwa Om sudah meninggal. Aku
dan bapak diam, sambil saling tatap. Innalillah wa innaillaihi rojiun.
Om,
waktu berjalan begitu cepat. Kamu pergi tanpa pamit dan tanpa meninggalkan
pesan apa pun. Barangkali memang seperti itulah takdir, selalu memaksa. Kamu
pergi untuk selamanya.
Dan
tepat hari ini sudah satu tahun kepergianmu. Tak ada lagi tawaran rokok darimu,
tak ada lagi info sepeda motor yang dijual atau dibeli, tak ada lagi ajakan
makan siang atau makan malam, tak ada lagi perayaan kecil darimu setelah
berhasil menjual unit sepeda motor.
Om,
kamu sudah tenang di sana. Kutuliskan ini untukmu, supaya yang masih di sini membacanya,
supaya yang di sini selalu mengingatmu, mengingat segala kebaikan-kebaikanmu tentunya, sembari menunggu giliran kapan tibanya hari itu.
Komentar
Posting Komentar