Catatan sebuah perjalanan
Kayuh mengayuh adalah hal yang melekat dengan hari-harimu kini dan sepeda menjadi sahabat karib. Perjalanan tiga kilometer ditempuh dalam kurun waktu lima belas menit dengan kecepatan lumayan. Bisa jadi sepuluh menit jika terburu-buru. Dengan kayuhan penuh tenaga. Dan terengah. Bagaimanapun juga perjalanan itu berhasil kau tempuh. Barangkali itu adalah upayamu untuk bersyukur. Bertemu orang-orang baru di jalan dan sama-sama mengayuh sepeda, saling tegur sapa adalah hal baru buatmu. Kini kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian.
Hal yang sama macam sepuluh tahun lalu saat kamu berdiri di dua sisi; belajar dan bekerja. Sepulang sekolah kamu segera bergegas dengan sepeda menuju tempat kerja, selalu berulang walau hanya berjalan tiga bulan. Sebab belajarmu jadi kacau musabab kamu belum pandai mengatur atau membagi waktu. Hari ini, kamu boleh saja merenung sejenak, sekedar mengingat apa saja yang terjadi sepuluh tahun silam. Bersyukur lagi. Dan berterima kasih kepada orang-orang yang hadir di hidupmu kala itu. Terima kasih untuk Martiny dan Richa yang melulu berisik menasihati supaya kamu tidak lupa akan kewajiban belajarmu. Terima kasih untuk Rico yang melulu menyemangati. Terima kasih pula untuk Yohanes dan Arif yang mendorongmu dari belakang saat perjalanan menuju pulang dari tempat kerja walau hanya sampai di persimpangan jalan.
Dan hari ini kamu sudah terbiasa. Kamu sudah menjalaninya saban hari sejauh ini, sampai hari ini. Menjalani kehidupanmu yang terus berlanjut. Bekerja untuk diri sendiri dan orang-orang terkasih.
234 premium dan segelas kopi susu adalah nikmat yang lain, yang kadang membuatmu menggerutu tatkala keras sebatangnya. Lelah sepulangnya, serta macam enggan memulai di awalnya kini tak lagi jadi soal sebab tekad yang bulat.
Sekarang, apa lagi doamu ?
Komentar
Posting Komentar