Obrolan malam dengan bapak (yang ke sekian kalinya)

 


Pukul satu lebih mataku dan matanya enggan sekali untuk terpejam. Sementara aku sendiri di pagi buta nanti ada jadwal lari bersama Krisna dan Rizal.

Ia bergegas menuju warung depan gang membeli teh panas dan air panas untuk menyeduh mie cup yang kubawa sepulang kerja tadi. Sebab di rumah tak ada kompor. Tentu selalu ribet tiap kali butuh air panas. Namun hal semacam itu sudah akrab dengan kami sepuluh tahun lebih semenjak ibu tiada.

Ia menyodorkan satu cup mie padaku supaya aku turut menyantap. Buatku, hal sederhana macam itu tak semua orang bisa merasakannya, dan oleh karenanya maka kami selalu bersyukur saban hari.

Beberapa waktu berselang setelah kelar makan, kami berbincang. Tentang tetangga sebelah yang saban hari ditagih oleh pemilik kontrakan rumah sebab belum membayar sewanya, tentang tetangga lain yang selalu mengeluh sebab jual beli rumahnya sepi, dan yang selalu membual sana sini, pamer sana sini tiap berhasil menjual satu unit atau bahkan lebih. Tak lupa pula ia menanyakan bagaimana kerjaku tadi, bagaimana suasana kedai sehari tadi. Aku sendiri pun menanyakan bagaimana kondisi badannya sekarang, yang kini mulai ringkih sebab usia. Kesehatannya yang mulai labil akhir-akhir ini, yang tak jarang membuatku khawatir tiap kali berada di luar rumah.

Dari banyak hal yang kami bicarakan malam itu kuberanikan bicara ke arah yang agak serius, tentang langkah apa yang bakal kutempuh setelah ini, tentu saja melepas lajang bukan suatu hal yang hendak kutempuh barangkali ia ingin sekali aku menyegerakannya. Kujelaskan padanya, bahwa akan kutemaninya di sisa umurnya. Ia terdiam agak termandam. Kucoba menguatkan, dengan kalimat-kalimat yang mampu kuucapkan. Mulai kuceritakan pula tentang siapa saja perempuan-perempuan yang sedang atau sempat dekat denganku, dan apa saja yang sudah kulakukan dengan orang-orang itu. Boleh saja orang menganggap semua itu tak penting dan tak perlu diceritakan. Seolah pengakuan dosa. Namun buatku hal semacam itu mampu meringankan beban yang ada, mampu meredakan sesak di dada.

Jam terus berjalan tanpa henti. Mataku mulai mengantuk. Ia sendiri mulai menguap. Aku pamit masuk kamar, meninggalkannya di ruang depan dengan sesapan kereteknya yang masih panjang.

Mulai kupejamkan mataku, berusaha untuk segera lelap dalam tidur. Barangkali mimpi-mimpi sudah menunggu. Dalam batinku mengucap; Ya Rabbi, lindungilah ia dalam setiap langkah di sisa umurnya. Berikanlah kesehatan dan berikanlah rasa tenteram dalam hatinya. Amin.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi