Untuk pak Abu dan bapak-bapak yang lain. Diberkatilah
Aku sudah tiba di tempat kerja setengah jam sebelum jam masuk. Pak Abu menyambut kedatanganku dengan ramah dan membuka obrolan, ia duduk di kursi sebelah tempatku duduk. Hari itu ia sedang ada pekerjaan; merenovasi ruang belakang sebab kayu dindingnya keropos dimakan rayap.
“Dari main bola, ya, mas ?” Tanyanya padaku sebab aku mengenakan jersey hari itu.
“Ngga, pak. Cuma bersepeda saja. Sekarang kerja naik sepeda, pak. Mau mengecilkan perut” jawabku dengan menyisipkan canda.
Ia kutawari minum dan ternyata sudah dibuatkan tadi. Ia berbicara beberapa hal hari itu. Perihal kedai yang mulai memerlukan renovasi di banyak titik, ia hafal betul sebab ia sendiri adalah yang merenovasi pertama kali saat bangunan tua itu baru saja dibeli pak Rahardjo. Ia juga menceritakan tentang pak Rahardjo, pun tentang keluarganya yang lain. Tentang anak-anaknya pula.
Pak Abu sendiri buatku seperti seorang pelobi ulung, ia selalu diandalkan pak Rahardjo tiap kali hendak membeli tanah maupun mendirikan bangunan. Ia adalah tokoh untuk uluk salam. Di usianya yang kini sudah kepala lima, ia mencoba mengurangi kesibukannya bekerja, sebab di rumah tampaknya lebih membutuhkannya. Hari-harinya hampir dihabiskan di tempat kerja, sementara di rumah hanya beberapa jam saja. Pagi sampai sore, kadang hampir malam ia baru kelar bekerja.
Jam menunjukkan pukul 13 kurang lima menit, aku hendak bergegas berganti seragam dan masuk. Pak Abu pun pamit melanjutkan pekerjaannya di lain tempat. Kuantarkan ia sampai depan gerbang.
Oh, Tuhan, berikanlah punggung yang kuat dan rezeki yang melimpah untuk pak Abu, juga untuk bapak-bapak lain yang berjuang menafkahi keluarganya, ucapku dalam hati.
Komentar
Posting Komentar