29/30 Sarkem Crowd
Kertas pesanan itu terus-terusan keluar tatkala magrib menjelang. Aku dan kamu sama-sama memicingkan mata. Kopi susu, jamu, es dawet dan beberapa mocktail . Kamu tahu apa yang perlu digarap. Dengan bahasa-bahasa asing yang kita sama-sama paham. Sodoran gelas dariku maupun darimu, serta racauan-racauan khas menjelang buka. Apa yang mesti keluar lebih dahulu. Sesekali miss tapi bukan rindu, adalah hal yang kerap kita lalui. Sarkem crowd. Dan sementara cucian-cucian itu sudah menumpuk. Serta cacian-cacian jika tak kunjung dikerjakan. Dan kini aku dan kamu tahu, kita tak hanya membikin latte art hati, melainkan juga candi, yang dibangun dengan tumpukan-tumpukan cucian dan cacian.