Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2025

29/30 Sarkem Crowd

Kertas pesanan itu terus-terusan keluar tatkala magrib menjelang. Aku dan kamu sama-sama memicingkan mata. Kopi susu, jamu, es dawet dan beberapa mocktail . Kamu tahu apa yang perlu digarap. Dengan bahasa-bahasa asing yang kita sama-sama paham. Sodoran gelas dariku maupun darimu, serta racauan-racauan khas menjelang buka. Apa yang mesti keluar lebih dahulu. Sesekali miss tapi bukan rindu, adalah hal yang kerap kita lalui. Sarkem crowd. Dan sementara cucian-cucian itu sudah menumpuk. Serta cacian-cacian jika tak kunjung dikerjakan. Dan kini aku dan kamu tahu, kita tak hanya membikin latte art hati, melainkan juga candi, yang dibangun dengan tumpukan-tumpukan cucian dan cacian.

19/30 kita pulang

Jalan Solo-Jogja basah kuyup sebab hujan sudah turun sejak pagi buta. Dengan jas hujan seadanya, dan dengan tekad yang kepepet, kita sama-sama sepakat menembus derasnya hujan hari itu. Demammu yang tiba-tiba datang semalam masih saja belum minggat, namun tak apa katamu. Pun aku juga yakin ia akan pergi dengan cepat, sama halnya dengan kesedihan, ia akan segera pergi dan digantikan dengan senyuman. Sebelumnya, tante mengantarkan kita sampai di teras rumah, dengan memberi pesan supaya hati-hati. Dan kita melaju lebih kencang dari biasanya. Sebab mengejar waktu. Aku sendiri santai karena hari itu masih cuti, sementara kamu masuk kerja beberapa waktu yang akan datang. Sepanjang perjalanan kita tak banyak cakap macam biasanya, kadang sesekali aku menggerutu jika ada pengendara lain yang seenak udel di jalan, entah dengan sein kiri tapi belok kanan, atau belok tanpa sein. Namun tanganmu melulu memeluk erat dari jok belakang berusaha menenangkanku. Sesekali juga kuterobos lampu merah, walau ...

18/30 kita sampai

Tepat saat asar kita tiba di tempat tujuan. Gerutuku tadi adalah bentuk sayang sekaligus cintaku padamu, maka jangan kau menangis sebab itu. Sambutan om dan tante masih sama macam biasanya; akrab, hangat dan penuh senyum. Menanyakan kabar tentu saja. Dan setelah bincang santai sore itu aku tertidur. Pulas pula. Menjelang buka, hujan kembali turun macam hari-hari lalu. Aku terbangun musabab dingin mulai menusuk perlahan. Sementara, kamu sedang sibuk menyiapkan buka puasa membantu om dan tante. Aku segera bergegas cuci muka, dan kita semua sama-sama menunggu beduk magrib. Suasana hangat benar-benar kurasakan di bawah atap itu, sekalipun hujan masih saja belum reda disertai angin yang terus-terusan mengembus. Dan boleh jadi, mangut masakan tante adalah santapan paling ideal untuk buka puasa hari itu. Kita semua menyantapnya selepas Shalat. Tentu saja aku sangat bersyukur hari itu, pun kamu, kan?. Lalu kita kembali berdoa yang terbaik untuk hari-hari yang akan datang, berbarengan dengan r...

Setengahnya

Satu waktu, kita sama-sama bicara jujur apa adanya, sekalipun itu yang pertama kali. Lain waktu, kita sama-sama sibuk dengan ponsel pintar kita masing-masing. Hidangan penutup dalam santap sahur kita beda-beda, entah dengan varian jambu, atau dengan yang gurih-gurih. Sahur yang perlu kita syukuri sebab orang lain belum tentu bisa macam kita. Sahur yang santai walau kadang tergesa, yang kolektif, yang diam maupun bincang, yang saling. Apa saja yang terjadi sepanjang bulan suci ini adalah upaya kita menjemput kemenangan yang tentu saja pasti akan datang. Dan dalam doa yang baik, satu hal terbersit dalam benak, kita sama-sama yakin, ibu pasti tersenyum di atas sana melihat ini.

Mula-mula, malu-malu

Mula-mula Malu-malu Kutuliskan banyak walau sesekali Tentang kekaguman dan harap Maupun tentang keraguan Mula-mula Malu-malu Namun kuberanikan Kuungkapkan tanpa pintamu Sebab aku tahu kau pun menunggu Langkah kecil perlahan-lahan Kuusahakan Kau usahakan