19/30 kita pulang

Jalan Solo-Jogja basah kuyup sebab hujan sudah turun sejak pagi buta. Dengan jas hujan seadanya, dan dengan tekad yang kepepet, kita sama-sama sepakat menembus derasnya hujan hari itu. Demammu yang tiba-tiba datang semalam masih saja belum minggat, namun tak apa katamu. Pun aku juga yakin ia akan pergi dengan cepat, sama halnya dengan kesedihan, ia akan segera pergi dan digantikan dengan senyuman.

Sebelumnya, tante mengantarkan kita sampai di teras rumah, dengan memberi pesan supaya hati-hati. Dan kita melaju lebih kencang dari biasanya. Sebab mengejar waktu. Aku sendiri santai karena hari itu masih cuti, sementara kamu masuk kerja beberapa waktu yang akan datang.

Sepanjang perjalanan kita tak banyak cakap macam biasanya, kadang sesekali aku menggerutu jika ada pengendara lain yang seenak udel di jalan, entah dengan sein kiri tapi belok kanan, atau belok tanpa sein. Namun tanganmu melulu memeluk erat dari jok belakang berusaha menenangkanku. Sesekali juga kuterobos lampu merah, walau dengan penuh hati-hati dan waswas.

Lambat laun kita sudah tidak asing lagi dengan jalan Solo-Jogja. Musabab hampir sepekan sekali kita melewatinya.

Tepat satu jam kita sampai di kos. Celanaku basah sebab jas hujan sobek di bagian jahitan. Celanamu pula. Lalu aku menyuruhmu segera mandi cepat-cepat dan segera kuantarkanmu berangkat kerja.

Beberapa waktu berselang, kita sudah saling sibuk, aku sudah kelar dengan pekerjaan rumah, dan kamu yang tiba waktunya break. Hujan pun sudah reda. Lalu pesan singkatmu masuk, menyapaku, begini: “sayang “.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi