Bicara masa depan

Boleh jadi seporsi sate ayam selepas kerja malam itu adalah santapan paling lezat sepanjang bulan ini. Pukul 22 lewat jalan Honggowongso masih ramai, toko-toko bunga pinggir jalan masih banyak yang buka, driver-driver Ojol masih saja sibuk mengantar pesanan, petugas parkir masih lekat dengan peluit di mulutnya. Memang bukan suatu hal yang baru, dan sudah seharusnya begitu jalan Honggowongso; selalu ramai, selalu hidup.

Setelah selesai makan, sepasang roda mengantarkan kita ke arah selatan, berhenti sejenak di lampu merah. Perbincangan serius justru dimulai setelah lampu hijau, tentang bagaimana hari depan, masa depan. Tentang sebuah janji yang sudah kita sepakati, yang kini menjadi kredo yang sama-sama kita pegang. Sebab aku dan kamu tahu, ini bukan perihal dua manusia yang jadi satu, melainkan dua keluarga yang jadi satu.

Kita sama-sama memikirkan satu hal yang sama, kita sama-sama paham, oleh sebab itu kita bisa saling memahami. Aku dan kamu tahu bahwa semua itu perlu permulaan, dan permulaan itu sudah ditempuh.

Bingung tentu saja menjadi hal yang melekat pada diri kita sejak saat itu. Bingung bagaimana nantinya, bagaimana baiknya. Beruntungnya kamu selalu mengerti, aku pula. Maka seberat dan sebingung apa pun selalu ada saja jalan keluar yang melegakan.

Lalu, bagaimana jadinya nanti? Bagaimana akhirnya nanti? Tentu kita tak pernah tahu perihal hari depan, namun kita juga tak punya pilihan lain selain menjalani, dengan semampu-mampunya dan setabah-tabahnya.

Bismillah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak tilas kerinduan menemani perjalanan menuju pulang

Jumat malam di kota Solo

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi