Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Surakarta pasca aksi massa

Pukul 11 lebih setelah kamu bersihkan lukaku, kita bergegas mengitari kota. Jalanan lumayan ramai dan lancar. Fasilitas-fasilitas umum banyak yang rusak sebab aksi semalam. Toko-toko tetap buka seperti biasanya. Sependek yang kulihat kini masyarakat sudah naik kelas, orang-orang sudah tahu dan paham mana yang menjadi sasaran. Namun di lain sisi, sebagai pelaku usaha atau bisnis tetap saja waspada dan khawatir, terlebih yang pernah mengalami peristiwa 98 silam. Tukar pesan antar teman dan saudara terus-terusan dilakukan. Barangkali sekedar tanya bagaimana kondisi sekitar, juga saling menguatkan, saling mengingatkan untuk tetap berjaga. Dan dalam doa yang sunyi nan cemas, kuputuskan tetap bekerja sekaligus berjaga. Bersyukur satu dua meja kedai terisi tamu. Semoga aman dan terkendali untuk kita yang masih dan tetap berjuang. Amin.

Surakarta, 8/2025

Sayang, bacalah sebentar: Dua pasang mata terpaku pada layar satuan inci yang mewartakan apa yang terjadi hari ini. Siang tadi Manahan, selepas Magrib giliran Gladag bergemuruh. Chaos . Orang-orang tahu apa yang menjadi pemicu. Orang-orang juga sudah muak dengan keadaan sekarang. Barangkali kata yang tepat sudah akrab terdengar: opo-opo lagi angel, sing gampang mung nesu. Sementara, kaki kananku masih kaku sebab luka yang tak kunjung kering. Buatku, solidaritas tidak melulu soal turun ke jalan, memanjatkan doa-doa baik untuk kawan-kawan yang masih berjuang juga bukan hal yang buruk. Dan dengan ini kamu tahu, aku berada di pihak mana.

Surakarta after rain

Kini, Solo setelah hujan tak asing lagi bagimu. Kamu sudah akrab bahkan nyaman dengannya. Harum tanah basahnya hingga udaranya yang menentramkan. Surakarta after rain kalau kata orang-orang. Sepasang roda antarkan kita yang memutuskan makan malam agak jauh dari tempat kerja. Indomie rebus dengan telur dan nasi ayam seadanya dipesan pada Aa burjo yang sedang menjaga. Kita memilih tempat duduk di teras paling ujung. Suasana burjo malam itu sepi tanpa pembeli, hanya kita berdua yang baru saja datang, mungkin orang-orang enggan untuk keluar sebab dinginnya malam dan lebih memilih untuk menarik selimutnya. Perbincangan yang melibatkan perasaan kembali berputar meskipun hanya sesaat. Beberapa menit menunggu pesanan kini datang, kita menyantapnya dan menikmati. Semangkuk mi dan sepiring nasi tandas. Ditutup dengan syukur dalam hati. Semoga kita senantiasa seperti itu. Kamu tersenyum, aku pula.

Menyaksikanmu lagi setelah sekian lama menepi

Sore selepas asar adalah laga uji coba terakhir Persis Solo sebelum kompetisi Liga bergulir. Para pendukung berbondong-bondong datang memadati stadion kecil milik Universitas. Aku dan Adrian, rekan kerjaku, menyempatkan hadir di sela-sela jam kerja. Sebagian orang sudah bisa masuk dan menduduki tribune, sementara sebagian yang lain masih berada di luar, termasuk aku dan Adrian, hingga pertandingan berjalan beberapa menit. Beberapa orang menggerutu memaksa masuk, namun petugas keamanan masih saja sigap menghalau, menghalangi. Sambo, satu di antara kami, menyeletuk: “penek wae, suporter og”. Pertandingan terus berjalan, beberapa menit kemudian aku, Adrian dan sebagian orang bisa masuk, dan segera berjejal dengan yang lain di semen berundak. Tribune barat terlihat masih ada yang kosong, sementara di timur sini orang-orang hampir memenuhi. Sore itu masih agak terik sebab matahari belum benar-benar pulang. Pertandingan berlangsung seru rupanya, walaupun di babak pertama tim kami digempur t...